Sebuah rekaman audio dari 'file Epstein' yang baru bocor kembali menghebohkan publik, menyeret nama mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Dalam rekaman itu, Blair disebut-sebut dikenal kerap meraup uang dalam jumlah besar dari pekerjaan konsultasinya setelah lengser dari jabatan orang nomor satu di Britania Raya. Informasi ini sontak memicu pertanyaan baru seputar etika dan transparansi pendapatan pasca-politik para pejabat tinggi.
Rekaman audio yang merupakan bagian dari dokumen-dokumen kontroversial Jeffrey Epstein ini, mengindikasikan bahwa Blair, yang juga merupakan anggota 'Board of Peace', memiliki reputasi dalam mendapatkan penghasilan signifikan dari jasa penasihatnya. Mengingat Epstein sendiri adalah tokoh yang terjerat kasus perdagangan seks dan memiliki jaringan luas dengan para elite global, setiap nama yang muncul dalam dokumennya pasti akan menjadi sorotan tajam dan menimbulkan spekulasi publik.
Pihak Tony Blair melalui kantornya segera membantah keras klaim tersebut. Mereka menyebutkan kepada media Al Jazeera bahwa angka-angka yang disebutkan dalam audio tersebut 'sampah' dan tidak berdasar. Bantahan ini tentu berusaha meredakan riuhnya spekulasi, namun kemunculan nama Blair dalam konteks 'file Epstein' tetap menjadi noda yang sulit dihilangkan dari citra publiknya.
Kondisi ini menambah daftar panjang kontroversi seputar para tokoh politik dunia yang dituding memiliki hubungan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan lingkaran Jeffrey Epstein. Bocornya informasi ini bukan hanya menyeret nama Blair, tapi juga kembali menyoroti isu akuntabilitas dan moralitas para pemimpin pasca-jabatan, khususnya terkait dengan sumber-sumber pendapatan mereka dari konsultasi atau advokasi yang seringkali kurang transparan. Publik tentu menuntut kejelasan lebih lanjut, mengingat potensi dampak pada citra dan kepercayaan terhadap institusi politik global.