Keputusan kontroversial Israel untuk mengusir organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) dari Jalur Gaza mulai akhir Februari ini memicu kekhawatiran global. Langkah ini diambil setelah MSF menolak menyerahkan daftar detail staf lokalnya kepada otoritas Israel, sebuah penolakan yang diklaim MSF demi keselamatan karyawannya. Akibatnya, layanan kesehatan di Gaza yang sudah ambruk kini berada di ujung tanduk.
Kementerian Urusan Diaspora dan Memerangi Antisemitisme Israel mengonfirmasi pada Minggu lalu bahwa mereka akan menghentikan seluruh aktivitas kemanusiaan MSF di Gaza. Israel berdalih, penyerahan daftar karyawan adalah persyaratan standar bagi semua organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Pihak kementerian juga sempat menuding dua karyawan MSF memiliki kaitan dengan kelompok Hamas dan Islamic Jihad, tuduhan yang telah dibantah keras oleh MSF.
MSF sendiri menyatakan telah berkomitmen awal Januari untuk menyerahkan daftar staf, namun akhirnya membatalkan rencana tersebut karena masalah keamanan staf dan kurangnya jaminan tentang bagaimana informasi itu akan digunakan. MSF menegaskan tidak akan melanjutkan proses pendaftaran, sebuah langkah yang disebut Israel 'bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dan protokol yang mengikat'.
Dampak dari penutupan operasional MSF ini diperkirakan sangat parah. Sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, MSF telah menjadi tulang punggung penyedia bantuan medis dan kemanusiaan di Gaza. Organisasi ini menyediakan setidaknya 20 persen kapasitas tempat tidur rumah sakit di wilayah tersebut dan mengoperasikan sekitar 20 pusat kesehatan. Sepanjang tahun lalu saja, MSF melakukan lebih dari 800.000 konsultasi medis dan membantu lebih dari 10.000 persalinan, serta menyediakan air bersih.
Banyak pihak, termasuk PBB dan berbagai NGO, mengecam keputusan Israel ini. Mereka melihatnya sebagai bagian dari 'senjatisasi sistematis dan instrumentalisasi bantuan' oleh Israel. James Smith, seorang dokter darurat di London, bahkan menyoroti bagaimana Israel secara sistematis menargetkan sistem perawatan kesehatan Palestina, dengan lebih dari 1.700 tenaga kesehatan tewas. Kondisi ini membuat Gaza sangat bergantung pada organisasi internasional seperti MSF. Tak hanya itu, MSF juga melaporkan 15 karyawannya tewas sejak dimulainya konflik. Tanpa dukungan vital dari MSF, layanan penting seperti perawatan darurat, kesehatan ibu dan anak, serta pengobatan pediatri terancam lumpuh total, meninggalkan ratusan ribu warga tanpa akses perawatan medis dasar.