Warga Portugal baru saja menuntaskan putaran kedua pemilihan presiden, Minggu (08/00 GMT). Ini bukan sekadar memilih pemimpin biasa, melainkan pertarungan sengit antara Antonio Jose Seguro dari Partai Sosialis, melawan Andre Ventura, pemimpin partai nasionalis Chega yang berhaluan kanan-jauh. Sekitar 11 juta pemilih di dalam dan luar negeri memiliki hak suara dalam momen krusial ini.
Yang membuat pemilu ini makin dramatis adalah kondisi cuaca ekstrem. Badai hebat terus-menerus melanda Portugal, menyebabkan sedikitnya tujuh orang tewas, banjir di mana-mana, dan kerugian ditaksir mencapai 4 miliar euro (sekitar Rp69 triliun). Ironisnya, di tengah bencana ini, pemungutan suara tetap dilanjutkan.
Meskipun Ventura sempat mendesak agar seluruh pemilu ditunda, permintaannya ditolak. Perdana Menteri Luis Montenegro menegaskan bahwa meskipun badai membawa "krisis yang menghancurkan", ancaman terhadap pemungutan suara bisa diatasi. Memang, ada sekitar 32 ribu pemilih di 14 daerah yang terpaksa menunda pencoblosan selama seminggu. Namun, secara umum, pesta demokrasi ini tetap berjalan, mengingatkan kita pada pemilu sebelumnya yang juga digelar saat pandemi COVID-19 melanda.
Meski Seguro yang unggul di putaran pertama dengan 31,1 persen suara diprediksi akan mengungguli Ventura (23,5 persen), perhatian publik tertuju pada seberapa besar perolehan suara kubu kanan-jauh. Kenaikan dukungan terhadap Chega dan Ventura menunjukkan tren bangkitnya ideologi sayap kanan di Eropa, termasuk Portugal. Ini menjadi sinyal penting tentang pergeseran lanskap politik di negara tersebut. Posisi presiden di Portugal sendiri memang lebih banyak bersifat seremonial dan simbolis, namun tetap krusial sebagai pemersatu bangsa di tengah berbagai tantangan, termasuk saat ini dihadapkan pada badai ganda: alam dan politik.