Konflik berkepanjangan di Yaman kembali memakan korban dari kalangan paling rentan. Sepasang bayi kembar berusia tujuh minggu, Raghad dan Raad, kini bertaruh nyawa akibat gizi buruk akut setelah keluarga mereka terpaksa mengungsi dari pegunungan Kahboub. Keluarga yang terdiri dari tujuh orang ini harus berjalan kaki selama tiga hari menuju Aden setelah serangan bom dan drone memaksa mereka meninggalkan rumah.
Kondisi kedua bayi memburuk drastis di jalan. Sang ibu, Lina, menuturkan bahwa anak-anaknya mengalami dehidrasi, muntah, dan diare hebat akibat paparan dingin serta debu. Setibanya di rumah sakit al-Sadaqah, Aden, tim medis mendiagnosis keduanya menderita malnutrisi akut berat. Raad, yang kondisinya lebih kritis, tampak kurus kering dengan tulang rusuk yang menonjol dan napas yang tersengal.
Ayah mereka, Bajash, mengaku kesulitan memberi susu formula karena harga melonjak akibat perang. Kadang ia hanya bisa memberi air putih. Situasi ini mencerminkan krisis kemanusiaan yang lebih luas: PBB mencatat lebih dari 250.000 orang terpaksa mengungsi dalam tiga bulan terakhir, sementara 800.000 orang kehilangan akses bantuan penyelamat nyawa setelah gencatan senjata informal runtuh. Kota Taiz kini terkepung total oleh milisi Houthi, memicu kelangkaan pangan dan lonjakan harga yang mengancam warga sipil.
Dampaknya bagi masyarakat Yaman sangat sistemik. Kelaparan tidak lagi hanya akibat perang, tetapi telah menjadi senjata yang mematikan. Anak-anak menjadi korban paling terdampak karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak mampu melawan infeksi di tengah minimnya fasilitas kesehatan dan pasokan makanan. Tanpa intervensi bantuan internasional yang masif, generasi muda Yaman terancam kehilangan masa depan mereka.