Jakarta - Luiz Inácio Lula da Silva kembali menorehkan sejarah. Politikus veteran berusia 80 tahun itu berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan kembali kursi kepresidenan Brazil, meski sempat kalah di putaran pertama. Kemenangan ini terasa istimewa karena ia berhasil mengalahkan tren kemenangan pemimpin sayap kanan di Amerika Latin yang kebijakannya mirip dengan Presiden AS Donald Trump.
Perjalanan hidup Lula memang luar biasa. Dari anak penjual kacang dan tukang semir sepatu yang baru bisa membaca di usia 10 tahun, ia menjelma menjadi pemimpin serikat buruh yang disegani. Sebagai Presiden pada periode 2003-2010, ia dikenal sebagai pemimpin sayap kiri pertama Brazil dalam hampir setengah abad dan berhasil mencatatkan popularitas tinggi hingga 83% saat pensiun.
Selama memimpin, Lula fokus pada program sosial besar-besaran. Ia menaikkan upah minimum di atas inflasi dan menggulirkan program bantuan keluarga 'Bolsa Familia' yang membantu sekitar 44 juta orang. Meski begitu, para pengamat menilai program ini belum menyentuh akar masalah kemiskinan struktural, seperti akses pendidikan yang belum merata.
Analisis Dampak: Kemenangan Lula membawa angin segar bagi kelompok kiri di Amerika Latin, namun tugas terberatnya adalah menyatukan kembali Brazil yang terbelah. Bagi masyarakat, kebijakan populis Lula diharapkan kembali mengangkat ekonomi kelas bawah, tetapi tantangan fiskal negara dan polarisasi politik yang tajam akan menjadi ujian utama di periode kepemimpinannya kali ini.