Kondisi geopolitik di Eropa kembali memanas. Hongaria baru-baru ini menyatakan akan menunda pencairan pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro atau setara Rp 1.575 triliun (kurs Rp 17.500/euro) untuk Ukraina. Langkah tegas ini diambil setelah aliran pasokan minyak mentah via pipa Druzhba dari Ukraina ke Hongaria terhenti.
Menteri Luar Negeri Hongaria, Peter Szijjarto, menuding Ukraina melanggar Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Ukraina dan menyebut penghentian pasokan minyak ini sebagai 'pemerasan'. Szijjarto menegaskan, Hongaria tidak akan menyerah pada tekanan tersebut. Aliran minyak Druzhba diketahui terhenti sejak 27 Januari lalu. Ukraina beralasan penghentian itu akibat serangan drone Rusia yang merusak infrastruktur pipa, namun Hongaria dan Slovakia justru menuding Ukraina sengaja menunda restart pasokan karena alasan politis.
Akibat terhentinya pasokan vital ini, pemerintah Hongaria bergerak cepat dengan memutuskan untuk menarik sekitar 1,8 juta barel minyak mentah dari cadangan strategis negara. Hal serupa juga dilakukan oleh Slovakia, yang turut merasakan dampak langsung karena kedua negara tersebut menjadi satu-satunya di Uni Eropa yang masih mengandalkan minyak Rusia melalui pipa Druzhba.
Perusahaan minyak Hongaria, MOL, yang juga mengelola kilang di Slovakia (Slovnaft), segera mengambil langkah diversifikasi pasokan. Mereka memesan minyak dari berbagai negara seperti Arab Saudi, Norwegia, Kazakhstan, Libya, hingga Rusia, yang akan dikirim via Pelabuhan Omisalj di Kroasia. MOL memperkirakan pengiriman pertama akan tiba awal Maret, butuh waktu tambahan 5-12 hari untuk mencapai kilang. Selain itu, MOL juga menunda pengiriman solar ke Ukraina.
Ironisnya, operator pipa Kroasia, JANAF, justru menyatakan tidak ada urgensi bagi Hongaria untuk menarik cadangan minyak. Menurut JANAF, pengiriman minyak non-Rusia untuk MOL melalui pipa mereka berjalan lancar dan tanpa hambatan. Pernyataan ini sedikit kontradiktif dengan keputusan Hongaria.
Analisis Senior Editor:
Insiden ini bukan sekadar masalah teknis pasokan minyak, melainkan cerminan kompleksitas dan rapuhnya hubungan geopolitik di tengah perang Rusia-Ukraina. Tindakan Hongaria memblokir dana besar untuk Ukraina ini berpotensi menimbulkan keretakan serius di internal Uni Eropa. Hongaria, yang selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan Rusia, memanfaatkan ketergantungan energi ini sebagai alat tawar menawar. Konflik energi ini juga menunjukkan betapa krusialnya jalur pipa dan betapa rentannya Eropa Timur terhadap gangguan pasokan, sekaligus mempercepat desakan untuk diversifikasi sumber energi secara masif. Bagi masyarakat, ketidakpastian pasokan ini bisa berdampak pada kenaikan harga energi dan kebutuhan dasar, memicu inflasi, dan ketidakstabilan ekonomi di kawasan.