Jakarta, 12 Juni 2025 – Piala Dunia 2025 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko langsung diwarnai fenomena unik. Alih-alih bersatu mendukung sesama negara Afrika, banyak warganet dari berbagai negara di Benua Hitam justru ramai-ramai mendukung Meksiko saat melawan Afrika Selatan di laga pembuka.
Dukungan yang tampak aneh ini bukan tanpa alasan. Di balik meme-meme ringan bergambar sombrero, taco, dan musik mariachi, tersimpan kemarahan yang dalam. Para penggemar sepak bola dari negara Afrika lainnya menggunakan momen ini sebagai bentuk protes atas laporan kekerasan xenofobia yang marak terjadi di Afrika Selatan terhadap imigran dari negara Afrika lainnya.
Seorang pengguna X (Twitter) menulis dengan sinis, “Kalian mau didukung main bola cuma karena kita sama-sama orang Afrika? Kami dukung Meksiko biar kalian cepat pulang dan jaga pekerjaan kalian sendiri.” Cuitan ini merujuk pada tuduhan tak berdasar bahwa imigran asing adalah penyebab tingginya angka pengangguran di Afrika Selatan.
Daniel Kaniki, suporter asal Kongo yang menonton di Atlanta, AS, blak-blakan mengatakan, “Afrika itu seperti satu keluarga. Tapi kalau ada yang mengusir anggota keluarga lain, kita bukan keluarga lagi. Makanya saya dukung Meksiko hari ini.” Sentimen ini menunjukkan bagaimana isu sosial bisa merembet ke ranah olahraga.
Namun, tidak semua orang setuju. Vanlare Quist, penggemar asal Ghana, justru tetap mendukung Afrika Selatan. Ia menegaskan dirinya adalah “orang Afrika yang bangga” dan menilai sentimen anti-imigran hanya dilakukan oleh segelintir oknum. Di Sudan Selatan, para penggemar di pusat tontonan umum di Juba juga kompak mendukung Bafana Bafana. George Kenyi Charles Rehan, mahasiswa berusia 23 tahun, menyatakan, “Semua negara Afrika harus mendukung Afrika Selatan karena mereka mewakili Afrika.”
Analisis: Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi semangat pan-Afrikanisme. Alih-alih menjadi ajang pemersatu, Piala Dunia justru menjadi panggung untuk meluapkan kekecewaan politik dan sosial. Ini menunjukkan bahwa masalah xenofobia di Afrika Selatan bukanlah isu kecil, melainkan luka yang cukup dalam hingga mampu memecah belah solidaritas antarnegara di benua tersebut.