Militer dan Kepolisian Venezuela dengan tegas menyatakan sumpah setia kepada Presiden sementara Delcy Rodriguez. Momen penting ini terjadi di tengah gejolak politik dan ketegangan internasional pasca "penculikan" mantan Presiden Nicolas Maduro oleh operasi militer Amerika Serikat.
Pernyataan loyalitas ini disampaikan dalam sebuah upacara megah di kompleks militer Fuerte Tiuna, Caracas, pada hari Rabu. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino menjadi salah satu tokoh kunci yang menyerahkan tongkat komando dan pedang seremonial pahlawan kemerdekaan Simon Bolivar kepada Rodriguez, seraya bersumpah "kesetiaan dan subordinasi mutlak." Padrino menyebut peristiwa ini sebagai "momen tak terduga dalam sejarah republik kami."
Peristiwa ini mengikuti insiden "penculikan" Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada 3 Januari lalu, yang dituduhkan sebagai operasi militer AS yang diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump. Padrino mengklaim, operasi berdarah itu menewaskan 83 orang, termasuk 47 tentara Venezuela dan 32 personel keamanan Kuba. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello juga menyatakan loyalitas dari pihak kepolisian, menegaskan bahwa membela Rodriguez berarti "mempertahankan kesinambungan pemerintah dan integritas rakyat Venezuela."
Sejak mengambil alih kepemimpinan setelah kepergian Maduro, Rodriguez yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden, telah memulai "momen politik baru." Ia telah mengambil langkah awal dengan membebaskan sejumlah tahanan politik yang dipenjara di era Maduro. Rodriguez juga berulang kali menegaskan "tidak ada agen asing yang memerintah Venezuela," meskipun Presiden Trump telah mengancam intervensi militer lebih lanjut jika Venezuela tidak memenuhi ambisinya, termasuk menyerahkan kendali lebih besar atas cadangan minyak Venezuela yang melimpah kepada perusahaan-perusahaan AS.
Di sisi lain, oposisi tetap bergejolak. Pemimpin oposisi Maria Corina Machado, yang merupakan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025, sempat bertemu dengan Sekretaris Negara AS Marco Rubio di Washington. Dalam kesempatan itu, Machado menyatakan "tidak ada yang percaya pada Delcy Rodriguez" dan bahkan menghadiahkan Nobelnya kepada Trump. Merespons hal tersebut, Rodriguez, meski tanpa menyebut nama, menyindir: "Mereka yang ingin melanggengkan bahaya dan kerusakan terhadap rakyat Venezuela, biarlah mereka tetap tinggal di Washington."
Dampak dan Analisis: Transisi kekuasaan yang dipicu oleh dugaan intervensi militer asing ini menempatkan Venezuela di ambang ketidakpastian politik dan keamanan yang parah. Klaim mengenai "penculikan" presiden oleh negara adidaya seperti AS, jika benar, adalah pelanggaran kedaulatan yang sangat serius dan berpotensi memicu gelombang kecaman internasional serta konflik regional. Loyalitas militer dan polisi kepada Rodriguez menjadi krusial untuk menjaga stabilitas internal, namun tekanan eksternal dari AS yang menginginkan kendali atas sumber daya minyak Venezuela akan terus menjadi bayang-bayang. Kondisi ini memperlihatkan pertarungan sengit antara kedaulatan nasional, kepentingan geopolitik, dan masa depan rakyat Venezuela yang sangat bergantung pada stabilitas politik dan ekonomi negaranya.