SELAT HORMUZ: TITIK KRITIS PEMELIHARA PERADABAN GLOBAL? - Berita Dunia
← Kembali

SELAT HORMUZ: TITIK KRITIS PEMELIHARA PERADABAN GLOBAL?

Foto Berita

Selat Hormuz, jalur laut krusial yang namanya diambil dari Hormoz – dewa tatanan dan kebijaksanaan Zoroaster kuno – kini ironisnya menjadi titik paling rentan bagi stabilitas global. Jalur sepanjang 167 kilometer dan selebar 39 kilometer di titik tersempitnya ini bukan sekadar rute pelayaran biasa, melainkan denyut nadi utama produksi dunia.

Setiap tahun, diperkirakan 30.000 kapal melintasi perairan strategis ini. Muatannya bukan cuma seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, melainkan juga beragam komoditas vital lainnya. Ada urea untuk pupuk yang menumbuhkan pangan kita, aluminium untuk konstruksi infrastruktur, helium pendingin semikonduktor, hingga petrokimia yang menopang industri farmasi dan manufaktur. Para ahli menyebutnya 'katup aorta' produksi global. Jika katup ini tersumbat, seluruh sistem peredaran darah ekonomi dunia bisa kolaps.

Sejarah Selat Hormuz juga tak kalah menarik. Sejak abad ke-11, wilayah ini sudah menjadi pusat perdagangan legendaris. Muhammad Diramku, saudagar dari Oman, mendirikan Kerajaan Hormuz yang berkembang menjadi emporium terbesar di abad pertengahan, menarik pedagang dari Mesir, Tiongkok, Jawa, hingga Venesia. Dari sana, mereka semua memahami satu hal: siapa yang mengendalikan gerbang ini, dia mengendalikan perdagangan regional.

Dominasi kekuasaan di Selat Hormuz terus berlanjut. Portugis, di bawah Laksamana Afonso de Albuquerque, berhasil merebutnya pada 1507. Kemudian, pada 1622, Shah Abbas I dari Persia mengambil alih dengan dukungan angkatan laut Inggris. Inggris sendiri kemudian mendominasi, bahkan memblokade selat ini pada 1951 untuk menekan Iran terkait nasionalisasi industri minyak mereka. Tak berhenti di situ, selama Perang Iran-Irak (1980-1988), pentingnya Selat Hormuz kembali menjadi sorotan. Antara 1984 dan 1987, 546 kapal dagang diserang dan lebih dari 430 pelaut tewas, menunjukkan betapa berbahayanya jalur ini saat konflik berkecamuk.

Analisis dampak menunjukkan, gangguan di Selat Hormuz bisa memicu krisis global multidimensional. Dampaknya melampaui kenaikan harga minyak saja. Terganggunya pasokan pupuk akan mengancam ketahanan pangan, kelangkaan helium bisa melumpuhkan produksi teknologi, dan terhambatnya petrokimia akan mengguncang industri manufaktur serta farmasi. Akibatnya, masyarakat global akan menghadapi inflasi tinggi, kelangkaan barang, dan ketidakpastian ekonomi yang masif. Oleh karena itu, menjaga stabilitas politik di kawasan Teluk, terutama di antara negara-negara pesisir, menjadi keharusan mutlak demi kelancaran rantai pasok dan kelangsungan ekonomi dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook