PERU GANTI PRESIDEN LAGI, JABATAN HANYA 53 HARI? - Berita Dunia
← Kembali

PERU GANTI PRESIDEN LAGI, JABATAN HANYA 53 HARI?

Foto Berita

Peru kembali diwarnai gejolak politik dengan dilantiknya Jose Maria Balcazar sebagai presiden interim. Mantan hakim sekaligus politikus sayap kiri ini resmi mengisi pucuk pimpinan negara pada Rabu, sehari setelah Jose Jeri dicopot dari jabatannya. Namun, masa jabatan Balcazar dipastikan sangat singkat, hanya 53 hari, karena rakyat Peru akan kembali menentukan pilihan di bilik suara pada pemilu April mendatang.

Penunjukan Balcazar menjadi presiden kesembilan Peru dalam satu dekade terakhir, sebuah fakta yang secara gamblang menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas politik di negara Amerika Latin ini. Pergantian pimpinan yang begitu cepat dan sering, dengan empat presiden di-impeach dan dua lainnya mundur sebelum masa jabatan selesai, telah menjadi pemandangan biasa di Peru.

Proses pemilihan Balcazar di Kongres juga tidak lepas dari drama. Setelah putaran pertama voting tak mencapai kuorum suara, putaran kedua akhirnya mengukuhkan Balcazar dengan 60 suara dari total 113 anggota kongres. Kemenangan ini, yang menggeser kekuasaan dari sayap kanan ke sayap kiri, sontak memicu kemarahan dan kekhawatiran di kalangan politikus sayap kanan, yang menuduh kepemimpinan negara kini jatuh ke tangan kelompok yang mereka lawan.

Lebih jauh, rekam jejak Balcazar sendiri tidak sepenuhnya bersih dari kontroversi. Sebagai mantan hakim, ia pernah tersandung masalah etika pada 2004 karena mencoba membatalkan putusan kasasi yang sudah final, hingga Komisi Nasional Yudisial menolak memperpanjang jabatannya di Mahkamah Agung. Sama seperti banyak pemimpin Peru sebelumnya, Balcazar juga sempat dikaitkan dengan dugaan korupsi dan skandal, bahkan pembelaannya terhadap pernikahan anak di masa lalu menjadi sorotan tajam di parlemen.

Krisis politik kronis ini tidak hanya mengganggu jalannya pemerintahan, tetapi juga berpotensi menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan bagi masyarakat Peru, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Pemilu bulan April dan kemungkinan putaran kedua di bulan Juni, diharapkan bisa menjadi titik balik untuk membawa stabilitas yang lebih permanen bagi negara ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook