Teheran, Media Online – Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan perubahan rezim di Iran telah memasuki hari ke-100. Meskipun gencatan senjata rapuh berlaku sejak April, pertempuran masih terus pecah dan Selat Hormuz masih ditutup, membuat perdamaian masih jauh dari kata usai.
Bagi Teheran, kemampuan mempertahankan sistem pemerintahannya sendiri di tengah perang dianggap sebagai kemenangan yang jelas. Lebih dari 3.400 warga Iran tewas, termasuk puluhan pemimpin senior. Serangan awal menghancurkan peluncur rudal Iran hingga kemampuan serangannya turun 90 persen, memperlihatkan kelemahan sistem pertahanan yang dibangun selama dua dekade. Program nuklir yang sudah rusak akibat perang 2025 juga kembali dihajar, dan infrastruktur sipil serta fasilitas energi hancur berkeping-keping.
Analisis: Dampak bagi masyarakat sangat besar. Ekonomi Iran yang sudah terpuruk sebelum perang kini makin kolaps. Jaringan sekutu Teheran di kawasan juga terus melemah. Namun, perang ini juga membawa kerugian bagi musuh. Rudal Iran berhasil menghantam pangkalan AS, mempermalukan sistem keamanan Amerika, dan menyeret negara-negara Teluk ke konflik yang tidak mereka inginkan. Efek paling abadi dari perang ini bukan hanya kerusakan fisik Iran, melainkan ketidakpastian baru dalam arsitektur keamanan kawasan. Penutupan Selat Hormuz yang mengatur seperlima minyak dunia masih berlangsung, mengancam pasokan energi global.
Sementara itu, upaya diplomatik dan blokade laut oleh AS belum mampu membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut. Situasi ini membuat harga minyak berpotensi melonjak dan rantai pasok global terganggu.