Jakarta - Pasar keuangan global kembali dihebohkan dengan langkah langka Amerika Serikat dan Jepang yang melakukan intervensi bersama untuk menopang nilai tukar yen. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa bantuan ini merupakan bentuk persahabatan dan dukungan Washington terhadap ekonomi global.
Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan bahwa Jepang memang membutuhkan bantuan untuk memperkuat mata uangnya yang terus melemah. 'Mereka mengalami pelemahan yen dan meminta sedikit bantuan. Kami selalu ada untuk Jepang,' ujar Trump saat menanggapi pertanyaan wartawan.
Intervensi bersama ini merupakan yang pertama kalinya sejak aksi serupa pada 2011 lalu. Kementerian Keuangan Jepang mengkonfirmasi bahwa langkah ini diambil untuk melawan volatilitas berlebihan dan pergerakan yen yang tidak teratur dalam beberapa bulan terakhir. Nilai tukar yen sempat menyentuh level terendah dalam 40 tahun di kisaran 164 yen per dolar AS sebelum akhirnya menguat ke level 157 yen.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan komitmen Washington untuk terus mendukung langkah Jepang. 'Kami sangat mendukung langkah tegas pasar dan moneter Jepang untuk mengoreksi undervaluasi yen yang substansial,' tulis Bessent di akun media sosialnya.
Yang menarik, Bank of Japan (BOJ) juga memberikan sinyal paling jelas tentang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, sejalan dengan desakan Bessent. Langkah ini menjadi bagian dari koordinasi kebijakan yang lebih luas, di mana Korea Selatan juga melakukan intervensi untuk menopang won pada hari yang sama.
Para analis menilai intervensi ini menunjukkan tekad kedua negara untuk mencegah dampak negatif dari aksi jual besar-besaran yen dan obligasi pemerintah Jepang, yang berpotensi menekan imbal hasil Treasury AS yang sudah tinggi. Jepang sendiri diperkirakan telah menjual sekitar 58,97 miliar dolar AS untuk membeli yen dalam aksi intervensi di pasar New York.