Jakarta, 12 Juni 2026 – FIFA secara resmi membatalkan tiket Piala Dunia 2026 yang diberikan secara gratis kepada sekitar 60 penggemar akibat kesalahan sistem di situs resmi mereka. Insiden ini terjadi pada 21 Mei lalu, di mana tiket secara tidak sengaja teralokasi dengan harga nol dolar (gratis) karena adanya masalah pembayaran pada proses checkout.
Dalam pernyataan resminya, FIFA mengakui kesalahan ini dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Meski tiket dibatalkan, FIFA memastikan tiket tersebut tetap direservasi bagi para penggemar yang terdampak, dan mereka diundang untuk menyelesaikan pembayaran dengan jumlah yang benar.
Insiden ini menjadi babak baru dalam kontroversi sistem penjualan tiket Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Jaksa Agung New York dan New Jersey telah meluncurkan penyelidikan terhadap program tiket FIFA atas dugaan pelanggaran hukum perlindungan konsumen. Masalah ini mencuat setelah harga tiket edisi 2026 melonjak drastis dibandingkan edisi-edisi sebelumnya, dengan tiket final dijual seharga USD 32.970 atau setara Rp 500 juta untuk kursi baris depan.
FIFA menerapkan model 'surge pricing' (harga dinamis) yang kontroversial, di mana harga tiket bisa berubah tergantung permintaan. Selain itu, FIFA juga mengoperasikan platform penjualan kembali (resale) sendiri dengan komisi 15 persen dari pembeli dan penjual, sebuah langkah untuk memotong peran calo. Namun, platform pihak ketiga seperti SeatGeek masih menawarkan banyak tiket untuk berbagai pertandingan.
Yang menarik, saat kampanye tawaran tuan rumah pada 2018, federasi sepak bola AS, Kanada, dan Meksiko berjanji akan menjual ratusan ribu tiket pertandingan babak grup seharga USD 21 (sekitar Rp 315 ribu) per tiket. Kenyataannya, tiket termurah saat ini jauh di atas angka tersebut. FIFA membela kenaikan harga ini sebagai cara untuk mengumpulkan miliaran dolar yang akan dibagikan ke federasi anggota untuk mengembangkan sepak bola global.
Analisis Dampak: Insiden ini memperburuk citra FIFA di mata publik, terutama di negara-negara tuan rumah. Sistem tiket yang kacau dan harga yang selangit berpotensi membuat pertandingan tidak terisi penuh, terutama untuk laga-laga yang kurang diminati. Selain itu, penyelidikan dari jaksa agung AS bisa berujung pada denda besar atau perubahan wajib dalam sistem penjualan tiket FIFA di masa depan. Bagi penggemar biasa, ini menjadi tanda bahwa menonton Piala Dunia langsung semakin sulit dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah.