Washington dan Teheran masih saling lempar sinyal campur aduk soal arah perang delapan bulan mereka. Di satu sisi, Amerika Serikat (AS) disebut-sebut tengah menyiapkan opsi serangan militer baru ke Iran pasca pemilihan sela November mendatang, dengan penguatan pertahanan udara hingga pengerahan pesawat kargo militer ke Israel, Yordania, Arab Saudi, dan Qatar.
Namun di sisi lain, jalur diplomasi belum tertutup. Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan menawarkan pertemuan langsung dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melalui mediasi Qatar. Tawaran itu membawa program nuklir Iran ke meja perundingan sejak awal, sebagai upaya mencegah kembali meletusnya serangan besar-besaran.
Para pengamat menilai hambatan utama bukan soal ada atau tidaknya jalur komunikasi, melainkan soal kepercayaan. Vance dianggap sebagai 'suara akal sehat' di pemerintahan Trump, tapi posisinya dinilai belum cukup kuat untuk benar-benar mengubah arah kebijakan. Di sisi Iran, Rezaei disebut hanya satu dari banyak pemangku kepentingan, karena keputusan strategis diambil secara kolektif. Situasi ini membuat publik di kawasan was-was: ketegangan militer yang meningkat bisa berdampak pada harga minyak dunia, stabilitas pasokan energi, dan kondisi ekonomi masyarakat luas.