Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ternyata turut menyeret ajang Piala Dunia 2026. Sempat muncul kekhawatiran dan upaya relokasi pertandingan, namun FIFA dengan tegas memastikan timnas Iran akan tetap berlaga di Amerika Serikat sesuai jadwal.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 akan berjalan sesuai undian. Ini sekaligus menepis desakan Federasi Sepak Bola Iran yang sebelumnya meminta agar laga mereka dipindahkan ke Meksiko, dengan alasan konflik yang memanas antara AS-Israel dan Iran. Bahkan, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum sempat menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah.
Menurut jadwal, Iran akan memainkan laga Grup G perdananya melawan Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni 2026. Selanjutnya, mereka akan menghadapi Belgia pada 21 Juni di Los Angeles, dan Mesir pada 27 Juni di Seattle. Jadwal ini tidak akan berubah, meski Iran sempat dihadapkan pada ketidakpastian partisipasi akibat konflik yang pecah pada 28 Februari lalu.
Infantino sendiri berkali-kali menekankan komitmen FIFA untuk memastikan semua tim berpartisipasi. Ia bahkan sempat menyebut bahwa FIFA tidak bisa menyelesaikan konflik geopolitik, namun akan menggunakan kekuatan sepak bola untuk membangun jembatan dan mempromosikan perdamaian. Ini adalah pesan penting di tengah situasi global yang penuh ketegangan.
Meski demikian, kekhawatiran Iran bukan tanpa alasan. Informasi dari berbagai media menunjukkan bahwa ketegangan antara AS-Israel dan Iran terus bereskalasi, menciptakan suasana politik yang tidak stabil. Terlebih, sempat ada pernyataan dari mantan Presiden AS Donald Trump yang menyarankan agar tim Iran tidak datang demi keamanan mereka, meskipun kemudian FIFA tetap pada pendiriannya.
Di tengah situasi ini, timnas Iran sendiri menunjukkan solidaritas kemanusiaan. Dalam laga persahabatan melawan Nigeria di Turki, para pemain terlihat mengenakan ban hitam dan berpose dengan tas sekolah. Ini adalah bentuk penghormatan bagi para korban serangan udara di sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, pada 28 Februari, yang menewaskan setidaknya 170 orang. Gestur ini mengingatkan kita bahwa di balik kompetisi olahraga, ada narasi kemanusiaan yang mendalam yang juga layak mendapatkan perhatian.