Washington, DC - Di tengah panasnya tensi politik menjelang pemilihan sela (midterms) Amerika Serikat, Pentagon baru saja membongkar angka fantastis terkait biaya perang melawan Iran. Dalam laporan terbaru ke Kongres, disebutkan bahwa kocek rakyat AS sudah terkuras hingga 47,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp700 triliun lebih (kurs Rp15.000) per 16 Oktober lalu.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan amunisi politik menjelang pemungutan suara 3 November mendatang. Rinciannya bikin geleng-geleng kepala: sekitar 29 miliar dolar AS habis hanya untuk mengganti amunisi yang sudah ludes dipakai, seperti bom dan peluru. Angkatan Udara AS juga menghabiskan 7,6 miliar dolar AS untuk operasional jet tempur dan pembom, sementara Angkatan Laut merogoh 1,5 miliar dolar AS untuk menggerakkan dua lusin kapal perang dan kapal induk.
Yang menarik, laporan ini dianggap belum 'tuntas'. Pentagon belum memasukkan biaya perbaikan pangkalan militer yang rusak di Timur Tengah, serta biaya bahan bakar kapal dan pesawat. Belum lagi polemik jumlah korban jiwa. Pentagon secara resmi mengakui 18 tentara tewas, namun laporan Washington Post yang mengutip sumber anonim menyebut angka sebenarnya mencapai 22 jiwa, dengan 865 personel luka-luka.
Senator dari Partai Demokrat pun tidak tinggal diam. Mereka melayangkan surat protes keras ke Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menuduh pemerintahan Trump sengaja menutupi 'biaya sebenarnya' dari perang ini. Publik AS kini dihadapkan pada dilema: antara keamanan nasional atau beban ekonomi yang semakin mencekik jelang pesta demokrasi.