Pemimpin spiritual Hezbollah, Naim Qassem, menegaskan sikap tegasnya menolak negosiasi dengan Israel di tengah gempuran militer yang sedang berlangsung. Menurut Qassem, langkah tersebut hanya akan memaksakan penyerahan diri dan melucuti kemampuan Lebanon. Pernyataan ini muncul saat konflik di perbatasan Israel-Lebanon kian memanas, menyebabkan lebih dari 1.000 jiwa melayang dan sekitar 1,2 juta warga terpaksa mengungsi di seluruh Lebanon.
Qassem menyerukan persatuan nasional untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai 'musuh Israel-Amerika'. Ia memberikan dua pilihan jelas bagi Lebanon: menyerah dan melepaskan wilayah, atau konfrontasi serta perlawanan yang tak terhindarkan terhadap Israel. Hezbollah sendiri berjanji akan melanjutkan perjuangan 'tanpa batas'.
Eskalasi serangan Israel ke Lebanon terjadi sejak awal Maret, menyusul peluncuran roket oleh Hezbollah ke wilayah Israel. Tindakan Hezbollah ini adalah respons setelah dimulainya perang AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Selain serangan udara, militer Israel juga melancarkan invasi darat lebih dalam ke wilayah Lebanon, dengan dalih membasmi pejuang Hezbollah. Di sisi lain, kelompok bersenjata Lebanon itu terus melancarkan serangan roket ke Israel utara sambil terlibat bentrok darat dengan pasukan Israel.
Konflik yang kian memprihatinkan ini telah memicu kecaman global dan seruan untuk meredakan ketegangan. Namun, beberapa politisi sayap kanan Israel, seperti Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, justru menyerukan aneksasi Lebanon selatan. Seruan ini langsung dikecam oleh para pemimpin dunia, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mendesak negosiasi untuk mengakhiri kekerasan mematikan.
Di tengah situasi pelik ini, Pemerintah Lebanon justru mengambil sikap berbeda. Mereka telah melarang aktivitas militer Hezbollah dan menyatakan keinginan untuk terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Israel. Namun, pemerintah Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan melunakkan ofensif militernya. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pekan lalu bahkan menyatakan bahwa pengungsi dari Lebanon selatan tidak akan bisa kembali ke rumah mereka sampai Israel utara aman.
Situasi ini tak hanya menimbulkan krisis kemanusiaan yang parah, tetapi juga memperparah ketidakstabilan regional. Penolakan Hezbollah terhadap negosiasi di bawah tekanan militer, ditambah dengan seruan aneksasi dari pihak Israel, membuat prospek perdamaian semakin suram. Sementara itu, posisi Pemerintah Lebanon yang ingin berdialog, namun di saat bersamaan menghadapi kelompok bersenjata seperti Hezbollah di wilayahnya sendiri, menciptakan dilema yang kompleks. Konflik ini adalah bagian dari dinamika geopolitik yang lebih besar di Timur Tengah, dengan AS dan Iran juga terlibat dalam tarik-menarik pengaruh, menjadikan upaya de-eskalasi menjadi tantangan berat bagi komunitas internasional.