Gelombang ketegangan anti-imigran di Afrika Selatan kembali memakan korban jiwa. Seorang warga negara asing tewas dihajar massa dalam aksi protes di Kota Durban, Afrika Selatan. Polisi setempat menyebut korban yang berusia sekitar 30 hingga 40 tahun itu diserang oleh kelompok berjumlah sekitar 50 orang saat sedang berdiri di pinggir jalan di kawasan pusat bisnis Durban. Korban dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Hingga kini, aparat masih memburu para pelaku dan belum mengungkap identitas korban maupun detail aksi unjuk rasa tersebut.
Durban memang menjadi episentrum gelombang protes terhadap warga asing selama beberapa bulan terakhir. Aksi demonstrasi menuntut pemerintah bertindak tegas terhadap migran gelap ini dimulai sejak Juni dan kerap berujung ricuh, termasuk aksi penjarahan dan kekerasan setelah pawai anti-migran dua pekan lalu. Situasi ini memicu eksodus besar-besaran; puluhan ribu migran memilih meninggalkan Afrika Selatan demi menghindari amukan massa. Negara-negara seperti Nigeria, Mozambik, dan Malawi melaporkan warganya menjadi korban serangan xenofobia, meski otoritas Afrika Selatan membantah sebagian klaim tersebut dan menyebut kematian itu terkait kriminalitas.
Di balik konflik ini, akar masalahnya adalah persoalan ekonomi. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Afrika, Afrika Selatan menjadi magnet bagi para pencari kerja. Namun, warga lokal merasa lapangan kerja makin sempit dan layanan publik terbebani. Presiden Cyril Ramaphosa telah mengecam kekerasan anti-migran ini, tetapi ia mengakui lemahnya sistem kontrol perbatasan yang membuat 2,4 juta warga asing hidup di tengah populasi 62 juta jiwa.