Pemerintah Mauritius resmi mencabut status jam malam (curfew) yang sempat diberlakukan sejak pekan lalu. Keputusan ini diambil setelah situasi keamanan berangsur pulih usai gelombang demonstrasi ricuh yang langka terjadi di negara kepulauan tersebut.
Kerusuhan dipicu oleh kekecewaan masyarakat terhadap kelangkaan air bersih dan lonjakan harga kebutuhan pokok. Situasi memanas pada Sabtu lalu ketika seorang petugas polisi melepaskan tembakan yang mengenai leher seorang perempuan, memicu amarah publik yang berujung pada aksi anarkis.
Otoritas setempat melaporkan setidaknya 188 orang telah ditangkap terkait insiden penjarahan, pembakaran, perusakan kantor polisi, hingga kepemilikan bahan peledak. Polisi yang melakukan penembakan juga telah ditahan dan diadili. Meski demikian, pemerintah Inggris sempat memperbarui imbauan perjalanan (travel advice) mereka, meminta wisatawan untuk menjauhi kerumunan dan mengikuti arahan otoritas lokal.
Analisis Dampak: Pencabutan curfew ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor pariwisata Mauritius yang merupakan tulang punggung ekonomi negara. Namun, insiden ini menjadi tamparan bagi citra Mauritius yang dikenal sebagai model stabilitas di Afrika. Pemerintah kini dituntut untuk segera menyelesaikan akar masalah, yaitu krisis air dan inflasi, agar kepercayaan publik dan investor asing kembali pulih.