Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Yordania melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah selatan sebagai balasan atas aksi penembakan mematikan di sebuah gereja di Karak, Yordania, pekan lalu. Serangan balasan ini bukan tanpa korban. Otoritas Suriah melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dalam gempuran tersebut, termasuk tiga anak-anak dan seorang perempuan.
Menurut keterangan militer Yordania, operasi itu menyasar 'tempat persembunyian' kelompok bersenjata di tenggara Suriah. Mereka mengklaim aksi tersebut dilakukan atas koordinasi dengan pemerintah Suriah dan berhasil melumpuhkan sejumlah anggota kelompok teroris serta menghancurkan kendaraan mereka. Namun, klaim ini dibantah keras oleh Damaskus. Pemerintah Suriah menegaskan serangan itu terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya dan menyebutnya sebagai tindakan pengkhianatan. Suriah pun telah membuka investigasi atas insiden ini.
Dampak dari serangan udara ini sangat terasa di lapangan. Otoritas perbatasan Suriah langsung menutup jalur penyeberangan Nassib, satu-satunya akses utama bagi penumpang dan barang komersial antara kedua negara. Penutupan ini tentu saja memicu kekhawatiran akan terganggunya arus logistik dan mobilitas warga sipil di kawasan perbatasan yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi lokal.
Data dari layanan pertahanan sipil Suriah menyebutkan bahwa serangan menghantam setidaknya empat lokasi di pedesaan Deraa dan Suweyda. Tragisnya, lima dari tujuh korban tewas merupakan anggota satu keluarga yang menjadi korban saat tenda mereka dihantam di Desa Al Tai. Satu korban lainnya adalah seorang pria lanjut usia berusia 80 tahun. Insiden ini bermula dari serangan bersenjata di Gereja Ortodoks Yunani di Karak yang menewaskan sembilan orang, memicu janji balasan keras dari Raja Abdullah II.