OPTIMISME DAMAI AS-IRAN: AWAS! RANJAU PERANG MASIH ADA - Berita Dunia
← Kembali

OPTIMISME DAMAI AS-IRAN: AWAS! RANJAU PERANG MASIH ADA

Foto Berita

Awalnya, pada 23 Maret, dunia dikejutkan oleh klaim Presiden Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat dan Iran telah mencapai "titik-titik kesepakatan penting", terutama terkait minyak, gas, dan Selat Hormuz. Sinyal positif ini, ditambah penundaan serangan pada infrastruktur energi Iran, langsung memicu harapan diplomasi dan direspons pasar global dengan sukacita, seolah-olah ketegangan akan mereda.

Namun, Senior Researcher di Center for Conflict and Humanitarian Studies memberikan perspektif berbeda. Optimisme ini, menurutnya, mencampuradukkan dua hal: kondisi "kebuntuan yang menyakitkan bersama" (mutually hurting stalemate) yang mendorong pihak-pihak untuk berunding, dengan kerangka arsitektur perundingan yang kokoh untuk mencapai kesepakatan berkelanjutan. Saat ini, kebuntuan yang sama-sama merugikan mulai terlihat, tapi landasan kepercayaan untuk kesepakatan jangka panjang justru absen.

Apa itu kebuntuan yang menyakitkan bersama? Ini adalah kondisi ketika kedua belah pihak merasa melanjutkan konflik akan memakan biaya yang jauh lebih besar daripada potensi keuntungan militer. Indikatornya jelas terlihat di kedua kubu.

Di sisi Iran, persediaan rudal balistik mereka jauh berkurang, kemampuan angkatan lautnya melemah, dan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei telah mengganggu struktur keamanan internal mereka. Ini adalah kerugian signifikan yang membuat Iran tertekan.

Sebaliknya, Amerika Serikat dan sekutunya juga merasakan dampaknya. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, telah memicu guncangan energi dahsyat. International Energy Agency bahkan menyebut krisis ini lebih parah dari gabungan krisis minyak tahun 1973 dan 1979, dengan dampak inflasi langsung ke ekonomi domestik AS. Ini menjelaskan mengapa sinyal-sinyal diplomasi tiba-tiba muncul.

Analisis ini menunjukkan bahwa meskipun ada desakan untuk berunding karena kerugian bersama, akar masalah struktural konflik ini—yaitu erosi total kepercayaan antara kedua pihak—belum teratasi. Literatur ilmiah tentang penghentian perang mengidentifikasi "masalah komitmen" (commitment problem) sebagai penghalang utama perdamaian abadi. Ini adalah ketidakmampuan pihak-pihak yang bertikai untuk membuat komitmen pasca-kesepakatan yang kredibel tanpa adanya otoritas penegak yang kuat.

Fakta bahwa perang dimulai pada 28 Februari saat negosiasi nuklir aktif sedang berlangsung dan pejabat Oman bahkan menyatakan terobosan "sudah di depan mata", menunjukkan betapa rentannya proses diplomasi. Operasi militer di tengah jalur diplomatik yang berfungsi telah menghilangkan premis dasar diplomasi: bahwa kesepakatan di meja perundingan tidak akan dibatalkan oleh tindakan sepihak. Tanpa jaminan kuat dan penjamin yang kredibel, setiap kesepakatan damai antara AS dan Iran akan tetap berada di ambang ketidakpastian.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook