Kepastian juara Piala Afrika 2025 akhirnya menemui titik terang. Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) memastikan bahwa putusan final terkait sengketa gelar antara Senegal dan Maradona akan dijatuhkan pada akhir November 2026. Keputusan ini menjadi penantian panjang setelah kontroversi besar yang mewarnai partai final di Rabat, Januari lalu.
Sebagai informasi, Senegal sejatinya berhasil mengalahkan tuan rumah Maroko dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu. Namun, kemenangan tersebut sirna setelah CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika) menganulir hasil pertandingan. CAF menilai Senegal telah melakukan pelanggaran fatal karena meninggalkan lapangan selama 14 menit sebagai bentuk protes terhadap keputusan penalti di akhir babak normal. Akibatnya, CAF memberikan kemenangan 3-0 kepada Maroko dan mencabut gelar Senegal.
Merasa dirugikan, Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) mengajukan banding ke CAS pada 25 Maret lalu. Sidang dengar pendapat telah digelar di Lausanne pada 8 Oktober, di mana pihak Senegal berargumen bahwa keputusan wasit di lapangan bersifat final dan pertandingan telah selesai dengan kemenangan mereka. Sementara itu, CAS menyatakan bahwa proses hukum kali ini membutuhkan waktu lebih lama karena mereka akan menerbitkan putusan lengkap (CAS Award) yang mencakup dasar-dasar hukum, bukan sekadar keputusan singkat.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat pecinta bola Afrika, ketidakpastian ini tentu merusak euforia pesta sepak bola. Secara sosial, keputusan ini bisa memicu ketegangan diplomatik antar negara jika salah satu pihak merasa tidak puas. Dari sisi regulasi, putusan CAS nanti akan menjadi preseden penting mengenai batas toleransi protes tim di lapangan. Jika CAS memenangkan Senegal, integritas wasit sebagai pengadil lapangan akan diperkuat. Sebaliknya, jika Maroko tetap juara, pesan kuat terkirim bahwa tindakan walk-out (meninggalkan lapangan) adalah pelanggaran berat yang tidak bisa ditoleransi dalam sepak bola modern.