Lewis Hamilton akhirnya memecah kebuntuan. Setelah penantian panjang 1.197 hari, pembalap veteran itu sukses mengunci posisi terdepan (pole position) di Grand Prix Mexico City. Ini menjadi pole pertama Hamilton bersama Ferrari sejak bergabung, sekaligus mencatatkan namanya sebagai pembalap tertua yang meraih pole sejak Mario Andretti pada 1982 di usia 41 tahun.
Namun, sorotan utama sebenarnya tertuju pada Kimi Antonelli. Pembalap muda Mercedes itu berada di posisi keempat grid start, tapi punya peluang emas menjadi juara dunia termuda dalam sejarah Formula 1. Syaratnya cukup ringan: finis di posisi sembilan besar pada balapan Minggu nanti. Jika berhasil, ia akan menjadi pembalap Italia pertama yang juara sejak 1953.
Persaingan di lintasan cukup ketat. George Russell harus puas start kedua setelah kalah tipis 0,009 detik dari Hamilton, disusul Charles Leclerc di posisi ketiga. Sementara itu, juara bertahan Lando Norris harus bekerja ekstra keras karena hanya menempati posisi start keenam. Max Verstappen yang tadinya di posisi empat juga terkena penalti turun grid, memberikan keuntungan bagi Antonelli.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat Indonesia dan penggemar F1 global, balapan ini menyajikan narasi dramatis antara 'veteran yang membuktikan taringnya' dan 'anak muda yang siap menggulingkan rezim'. Kemenangan Antonelli tidak hanya akan mengubah peta kekuatan F1, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pembalap muda di seluruh dunia bahwa usia bukan lagi batasan untuk bersaing di level tertinggi. Selain itu, performa Hamilton menunjukkan bahwa pengalaman dan ketenangan masih menjadi senjata mematikan di tengah dominasi generasi baru.