Perundingan damai Ukraina-Rusia kembali buntu, dan Presiden Volodymyr Zelenskyy tak menahan diri meluapkan rasa frustrasinya. Ia mengkritik keras Amerika Serikat (AS) yang dinilainya terlalu menekan Kyiv, alih-alih Moskow. Kritikan ini muncul setelah putaran perundingan terbaru di Jenewa yang tak membuahkan hasil, di mana Ukraina menolak tegas tuntutan Rusia untuk menyerahkan sisa seperlima wilayah Donetsk yang masih berada di bawah kendali Kyiv.
Zelenskyy menegaskan, menyerahkan wilayah tambahan itu sama sekali tak bisa diterima oleh rakyat Ukraina. "Secara emosional, rakyat tidak akan pernah memaafkan ini. Tidak akan pernah," ucapnya. Data survei juga mendukung, menunjukkan mayoritas warga Ukraina menolak mentah-mentah penyerahan seluruh wilayah Donetsk, bahkan jika diiming-imingi jaminan keamanan yang kuat. Ironisnya lagi, sebagian besar responden juga tak yakin perundingan yang disponsori AS saat ini bakal menghasilkan perdamaian abadi.
Sebagai jalan keluar, Zelenskyy mengusulkan ide pembekuan garis kontak yang ada sekarang sebagai langkah awal menuju gencatan senjata dan negosiasi wilayah lebih lanjut. Ia percaya, opsi ini akan didukung penuh oleh rakyat Ukraina melalui referendum. Namun, saat perundingan damai berlangsung, Rusia justru menunjukkan taringnya dengan melancarkan serangan besar-besaran. Ratusan drone dan puluhan rudal menghantam infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan puluhan ribu keluarga kehilangan listrik dan pemanas. Ini jelas sinyal kuat niat Moskow yang sebenarnya, bahwa mereka tak gentar melanjutkan agresi meski meja perundingan dibuka.
Dukungan untuk Zelenskyy datang dari Senator AS yang baru-baru ini mengunjungi Odesa. Para senator ini sepakat dan mendesak pemerintah AS untuk lebih gencar menekan Rusia. Namun, di tengah kondisi ini, mantan Presiden AS Donald Trump justru sempat menyalahkan Ukraina sebagai penghambat kesepakatan damai. Zelenskyy merespons dengan menyebut pernyataan Trump "tidak adil" dan berharap itu hanyalah taktik. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya diplomasi yang dihadapi Ukraina, terjebak di antara tuntutan kedaulatan, harapan rakyat, dan dinamika geopolitik para sekutu dan musuh.