TRUMP TUNDA KE CHINA, PERANG IRAN BERLANJUT! - Berita Dunia
← Kembali

TRUMP TUNDA KE CHINA, PERANG IRAN BERLANJUT!

Foto Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan menunda lawatannya ke Beijing hingga pertengahan Mei mendatang. Alasan utamanya? Perang di Iran yang tak kunjung usai. Dinamika ini bukan hanya mengubah agenda penting AS, tapi juga menyulut berbagai spekulasi di tengah krisis geopolitik global.

Sedianya, Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping antara 31 Maret hingga 2 April. Namun, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengumumkan pada hari Rabu bahwa jadwal tersebut diundur menjadi 14-15 Mei. Menurut Leavitt, penundaan ini disepakati setelah Presiden Xi memahami betapa krusialnya kehadiran Trump di tanah air saat operasi militer di Iran masih berjalan. Sebagai balasan, Trump dan Ibu Negara Melania Trump juga dijadwalkan menjadi tuan rumah bagi Presiden Xi di Washington DC pada akhir tahun.

Perang di Iran, yang dimulai sejak 28 Februari oleh AS dan Israel, kini sudah mendekati satu bulan. Konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga telah memukul ekonomi dunia secara signifikan, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz. Jalur maritim vital ini merupakan urat nadi pengiriman minyak global, dan penutupannya otomatis memicu gejolak harga energi yang dirasakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tiongkok, sebagai salah satu konsumen minyak Iran terbesar (data Kpler menunjukkan 80% pengiriman minyak Iran di tahun 2025 dibeli Beijing, sekitar 1,38 juta barel per hari), memiliki kepentingan langsung dalam stabilitas kawasan. Beijing telah berulang kali menyerukan penghentian perang. Namun, ketika Trump meminta Tiongkok untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, Beijing menolak terlibat aktif, hanya menggarisbawahi pentingnya perdamaian. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan bahwa situasi tegang di Selat Hormuz telah mengganggu perdagangan internasional dan stabilitas regional.

Meskipun menghadapi tekanan dan ketidakpastian, pemerintahan Trump tetap menyatakan bahwa operasi gabungan dengan Israel, yang dijuluki 'Operation Epic Fury', berjalan sesuai rencana dan target sedang dipenuhi dengan cepat. Leavitt memperkirakan durasi operasi militer ini sekitar empat hingga enam minggu. Namun, pernyataan ini kerap bertolak belakang dengan informasi dari Trump dan sekutunya yang seringkali tidak konsisten mengenai garis waktu dan tujuan perang. Di sisi lain, popularitas perang ini di AS cukup rendah, dengan 59 persen responden survei Pew Research Center menyatakan ketidaksetujuan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook