Jakarta, CNN Indonesia -- Hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memanas. Dalam siniar yang dirilis Rabu (4/6), Trump mengakui dirinya 'kesal' dengan aksi militer Israel di Lebanon yang dinilainya mengganggu rencana diplomasi dengan Iran.
Trump mengaku menyebut Netanyahu 'gila' dalam percakapan telepon pada Senin lalu. Ia kesal karena Netanyahu terus memerangi Lebanon di tengah upaya Washington membuka perundingan damai dengan Teheran. 'Saya suka Bibi, kami bekerja sama dengan baik. Tapi dia terus bertengkar dengan Lebanon,' kata Trump.
Netanyahu menepis ketegangan ini dan menyebutnya sebagai 'perbedaan taktis' layaknya pertengkaran dalam keluarga. Namun para analis menilai insiden ini menunjukkan frustrasi Gedung Putih terhadap agenda pribadi Netanyahu yang kerap berbeda dengan kepentingan AS.
Ketegangan ini berpotensi menggagalkan gencatan senjata AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia. Iran bahkan mengancam akan menangguhkan pembicaraan dengan AS jika serangan di Lebanon terus berlanjut.
Di sisi lain, sentimen publik AS terhadap Israel sedang memburuk. Jajak pendapat Pew Research pada April lalu menunjukkan 60 persen warga AS kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel, naik drastis dari 42 persen sebelum perang Gaza 2023.