Serangan drone militer di pasar Kota Nyala, Darfur Selatan, Sudan, menewaskan lebih dari 100 orang. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Insiden ini terjadi pada Senin malam (waktu setempat) dan menjadi salah satu serangan paling mematikan dalam konflik berkepanjangan antara militer Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Menurut kesaksian warga, pasar tersebut memang ramai dikunjungi para pejuang RSF yang membeli kebutuhan sehari-hari. Seorang pedagang rokok mengungkapkan bahwa ratusan anggota RSF berkumpul di pasar saat drone menghantam sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Ledakan besar itu tidak hanya membunuh puluhan pejuang, tetapi juga para perempuan yang berjualan makanan dan teh di sekitar lokasi.
Kelompok hak asasi Emergency Lawyers mencatat lebih dari 100 orang tewas dan 113 lainnya luka-luka. Sementara itu, Sudan Doctors Network melaporkan angka sementara 21 tewas dan 40 luka-luka, dengan catatan bahwa akses verifikasi di lapangan sangat sulit akibat operasi militer yang masih berlangsung. Juru bicara Pasukan Operasi Khusus yang bertempur bersama militer Sudan, Mohamed Didan, mengklaim serangan udara presisi tersebut menewaskan lebih dari 150 anggota milisi di kamp Dumaya, sebelah barat Nyala.
Dampak kemanusiaan dari insiden ini sangat besar. Konflik yang kini memasuki tahun keempat telah menciptakan kemiskinan parah, kekurangan pangan, dan krisis pengungsian terburuk di dunia. Pekerja bantuan di Darfur, Mubarak Bekheit, menyatakan bahwa banyak korban masih hilang dan jasad belum berhasil dievakuasi dari rumah-rumah warga yang terdampak. Ia menegaskan bahwa warga sipil selalu menjadi pihak yang menanggung harga tertinggi dalam perang ini.