Kekerasan di Tepi Barat kembali memanas. Kali ini, sasaran amukan pemukim Israel adalah konvoi diplomat asing yang sedang mendampingi petani zaitun Palestina. Insiden ini memicu kemarahan Uni Eropa (UE) yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari pemerintah Israel.
Peristiwa nahas itu terjadi di desa Taybeh, dekat Ramallah, Sabtu lalu. Rombongan yang terdiri dari diplomat Prancis, Belgia, Polandia, dan perwakilan Gereja Katolik itu diserang oleh pria bertopeng. Mereka tidak hanya diancam, namun kaca mobil dinas Belgia juga dipecahkan. Seorang pejabat Prancis, Bernard Baudoux (78), bahkan menjadi korban pemukulan hingga terlempar ke tanah meski mengenakan atribut resmi negaranya.
Insiden ini bukan sekadar keributan lokal, melainkan memicu tekanan diplomatik internasional. UE mengecam keras aksi yang disebut sebagai 'pogrom' tersebut. Dalam pernyataan resminya, blok 27 negara itu menyambut baik kecaman dari pejabat Israel, namun menegaskan bahwa kata-kata saja tidak cukup. Mereka menuntut Israel menindak tegas para pelaku dan menghentikan perluasan pemukiman ilegal yang menjadi akar kekerasan.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mendesak Israel segera menangkap pelaku dan melindungi warga sipil. Sementara itu, Menlu Israel Gideon Saar mengecam kekerasan tersebut dan menyebut pelaku sebagai 'perusuh'. Namun, ia juga menyalahkan delegasi Eropa karena dianggap tidak berkoordinasi dengan militer Israel sebelum berkunjung.
Insiden ini menjadi sorotan karena terjadi hanya sehari setelah serangan serupa di desa Abu Falah. Dalam kejadian itu, pemukim Israel menyerang petani zaitun dan menyebabkan jurnalis foto asal AS, Heidi Levine, mengalami luka serius. Levine dilaporkan dipukuli selama 10 menit hingga tulang rusuknya patah dan harus menjalani operasi pada tangannya. Rangkaian kekerasan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa musim panen zaitun yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, justru berubah menjadi medan pertempuran yang membahayakan nyawa warga sipil dan awak media.