Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Militer Jordania melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah selatan, tepatnya di Provinsi Daraa, sebagai balasan atas aksi penembakan brutal di sebuah gereja Ortodoks Yunani di Karak, Jordania, pekan lalu. Insiden tersebut menewaskan sembilan orang dan melukai 34 lainnya.
Otoritas kesehatan Suriah melaporkan bahwa serangan balasan Jordania ini menewaskan lima warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan seorang pria lanjut usia. Sementara itu, pihak militer Jordania mengklaim serangan tersebut menyasar 'organisasi teroris' dan berhasil melumpuhkan sejumlah target, meski mereka tidak merinci jumlah korban dari pihak lawan.
Menariknya, Jordania menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah Suriah sebelum serangan dilakukan. Namun, Damaskus membantahnya dan menyebut mereka tidak mendapat pemberitahuan resmi terkait serangan mendadak tersebut. Sebagai respons tegas, Suriah langsung menutup perlintasan perbatasan Nassibāsatu-satunya jalur utama bagi lalu lintas penumpang dan barang antara kedua negaraādemi alasan keamanan.
Di sisi lain, pihak keamanan Jordania mengklaim telah menangkap dua bersaudara dan ipar mereka yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan di gereja Karak. Mereka ditangkap saat bersembunyi di sebuah rumah terbengkalai sebelum fajar. Menteri Dalam Negeri Jordania menegaskan bahwa para pelaku adalah warga negara Jordania.
Analisis Dampak: Penutupan perbatasan Nassib berpotensi besar mengganggu stabilitas ekonomi kedua negara yang tengah terpuruk, mengingat jalur ini adalah urat nadi perdagangan darat. Selain itu, eskalasi militer ini menunjukkan bahwa konflik domestik di Jordania (terkait terorisme) kini merembet menjadi ketegangan diplomatik dan militer antarnegara, yang bisa memicu ketidakstabilan lebih luas di kawasan.