Sedikitnya 72 orang tewas dalam serangan terkoordinasi di Kabupaten Tonj Utara, Negara Bagian Warrap, Sudan Selatan. Pemerintah setempat menyebut serangan pada Senin (pekan ini) itu melibatkan dua komunitas, yaitu Lou Ariik dan Apuk Padoch. Selain korban jiwa, sejumlah ternak dirampas dan rumah-rumah dibakar. Serangan ini diduga buntut dari kekerasan mematikan pada Jumat sebelumnya yang menewaskan delapan orang.
Gubernur Warrap, Angelo Ngot Mayar, menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan aparat keamanan mengevakuasi korban luka. Upaya pengembalian ternak dan pengejaran pelaku masih berlangsung. Pemerintah daerah juga meminta bantuan mitra kemanusiaan untuk menopang perempuan, anak-anak, dan lansia yang kehilangan tempat tinggal, pangan, dan obat-obatan.
Kekerasan ini bukan insiden pertama. Data Acled mencatat sedikitnya 60 orang tewas dan 50 luka dalam serangan serupa di wilayah yang sama pada Agustus, serta 58 tewas dan 71 luka pada Maret. Tahun lalu, Warrap sempat berstatus darurat selama enam bulan untuk meredam eskalasi.
Analisis: Bagi masyarakat Sudan Selatan, ternak bukan sekadar harta, melainkan simbol status dan mahar pernikahan. Karena itu, serangan seperti ini mudah memicu balas dendam berantai dan memperlebar jurang kemanusiaan. Situasi makin rumit menjelang pemilu presiden Desember mendatang, yang semula tertunda akibat perang saudara 2013-2018. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok hak asasi manusia menyoroti lambatnya persiapan pemilu, terutama pendaftaran pemilih dan pengamanan. Tanpa penanganan akar masalah—sengketa lahan, kemiskinan, dan impunitas—siklus kekerasan di Warrap berpotensi terus berulang dan mengancam stabilitas negara termuda di dunia itu.