DJIBOUTI - Kabar duka kembali datang dari jalur migrasi Laut Merah. Sebuah perahu yang mengangkut 350 orang tenggelam di lepas pantai Djibouti pada Kamis malam (waktu setempat). Akibatnya, sedikitnya 109 migran dilaporkan tewas, termasuk 15 anak-anak. Puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Perahu nahas tersebut diketahui sedang dalam perjalanan menuju Yaman. Naas, kapal itu terbalik di dekat kota pelabuhan Obock. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut sekitar 80 orang berhasil diselamatkan dari insiden tersebut.
Kepala Misi IOM di Djibouti, Alexandre Coissac, menyebut tragedi ini sebagai pengingat keras akan bahaya yang dihadapi para migran demi mencari kehidupan baru. Dari total korban yang ditemukan, pihak berwenang mengidentifikasi 52 pria, 42 wanita, serta 15 anak-anak (9 gadis dan 6 anak laki-laki).
Para penyintas, yang seluruhnya merupakan warga negara Ethiopia, saat ini mendapatkan perawatan medis di pusat respons IOM di Obock. Otoritas lokal juga tengah mengurus proses pemakaman para korban.
Meskipun Yaman masih dilanda perang saudara yang berkepanjangan, arus migrasi dari Tanduk Afrika ke negara tersebut tidak pernah surut. Faktor kemiskinan, ketidakstabilan, dan dampak perubahan iklim menjadi pendorong utama. Data IOM mencatat lebih dari 20.000 pergerakan dari Ethiopia ke Djibouti sejak September lalu. Angka ini meningkat 18% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan lebih dari 900 migran tercatat tewas atau hilang di rute yang sama sepanjang tahun 2025.
Analisis Singkat: Insiden ini menyoroti kegagalan sistemik dalam melindungi hak asasi manusia di jalur migrasi. Meskipun risiko kematian sangat tinggi, dorongan ekonomi dan keamanan membuat warga Ethiopia nekat menyeberang. Pemerintah Djibouti dan komunitas internasional dituntut untuk tidak hanya fokus pada evakuasi korban, tetapi juga mengatasi akar masalah yang membuat orang-orang ini rela mempertaruhkan nyawa.