Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengejutkan dunia dengan perubahan arah kebijakan pertahanan mereka. Dalam Strategi Pertahanan Nasional (NDS) 2026, Washington tidak lagi memandang Tiongkok sebagai ancaman keamanan utama, beralih fokus ke Belahan Bumi Barat dan menuntut sekutu lebih mandiri.
Dokumen Pentagon setebal 34 halaman yang dirilis ini menjadi penanda jelas pergeseran prioritas keamanan global Negeri Paman Sam. Jika sebelumnya era Biden menganggap Tiongkok dan Rusia sebagai 'tantangan utama', kini fokus utama AS adalah pertahanan tanah air dan keamanan di Belahan Bumi Barat (Western Hemisphere). Ini sejalan dengan semangat Doktrin Monroe abad ke-19 yang ingin mengukuhkan kembali dominasi AS di Amerika.
Pergeseran ini membawa konsekuensi besar, terutama bagi sekutu AS di Eropa dan Asia Pasifik seperti Korea Selatan. Washington kini mendesak mereka untuk 'memikul beban yang adil' dalam pertahanan kolektif, terutama dalam menghadapi ancaman dari Rusia dan Korea Utara. Ini berarti sekutu diharapkan untuk memperkuat pertahanan mereka sendiri tanpa terlalu bergantung pada militer AS. Sementara itu, hubungan dengan Tiongkok akan didekati melalui 'kekuatan, bukan konfrontasi', dengan prioritas utama menghalangi Tiongkok, bukan lagi menahannya secara penuh (containment).
Empat prioritas inti militer AS kini adalah: membela tanah air, mendorong kemandirian sekutu dari ketergantungan militer AS, memperkuat basis industri pertahanan, dan menghalangi Tiongkok. Guna memperkuat keamanan di Belahan Bumi Barat, AS berencana membangun sistem pertahanan rudal 'Golden Dome' untuk Amerika Utara dan mengamankan akses militer serta komersial ke lokasi strategis seperti Greenland. Kebijakan ini juga disorot karena beberapa tindakan kontroversial, seperti ancaman pengambilalihan Greenland oleh Trump dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang menimbulkan pertanyaan tentang hukum internasional, semuanya diklaim demi kepentingan keamanan dan ekonomi AS.
Menariknya, versi NDS yang dirilis ini dipenuhi foto-foto Sekretaris Pertahanan dan Presiden, serta berkali-kali secara terang-terangan mengkritik pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya. Ini menunjukkan tidak hanya pergeseran kebijakan, tetapi juga pertarungan narasi politik yang kental di balik strategi pertahanan AS. Bagi masyarakat global, perubahan ini bisa berarti dinamika keamanan regional yang bergejolak dan peningkatan tuntutan bagi negara-negara sekutu untuk lebih mandiri.