Paris, Prancis â Prancis kembali menahan kapal tanker minyak Rusia di perairan internasional Samudra Atlantik, Minggu (16/1/2025). Kapal bernama Tagor itu dihadang sekitar 400 mil laut di sebelah barat Brittany, dengan dukungan dari Inggris dan sekutu lainnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi langsung aksi ini melalui akun media sosialnya. Menurut Macron, kapal tersebut kedapatan mengibarkan bendera palsu untuk menyembunyikan identitas aslinya. Ini adalah kapal keempat yang dicegat Prancis sejak September 2025.
âTidak bisa ditoleransi jika ada kapal yang menghindari sanksi internasional, melanggar hukum laut, dan mendanai perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina,â tegas Macron.
Prancis menyebut operasi ini dilakukan dengan helikopter dan pasukan bersenjata yang naik ke kapal. Namun, Kremlin bereaksi keras. Juru bicara Rusia, Dmitry Peskov, menyebut penyitaan ini ilegal dan âmendekati pembajakan internasionalâ. Moskow mengaku sedang mengambil langkah untuk mengamankan muatan kapal.
Sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, Rusia memang mengoperasikan apa yang disebut sebagai âshadow fleetââarmada kapal tanker dengan kepemilikan tidak jelasâuntuk mengelabui sanksi Barat terhadap ekspor minyak mereka.
Menariknya, analisis BBC Verify menemukan bahwa hampir 200 kapal shadow fleet Rusia sudah memasuki perairan Inggris sejak Perdana Menteri Keir Starmer mengancam akan mencegat mereka pada pertengahan Maret lalu. Meski begitu, Kementerian Pertahanan Inggris hanya menyebut sedang melakukan âupaya penggangguan dan pencegahanâ tanpa memberikan detail operasi.
Macron menambahkan, kapal-kapal semacam ini tidak hanya melanggar aturan navigasi, tapi juga mengancam lingkungan dan keselamatan pelayaran. Sebelumnya, Prancis lebih sering membiarkan kapal-kapal ini melanjutkan perjalanan setelah pemiliknya membayar denda. Kini, kebijakan itu berubah drastis menjadi pencegatan langsung.