Insiden kereta api maut yang menewaskan 69 orang di Urda, Spanyol, pada 28 Oktober lalu ternyata bukan kecelakaan pertama di jalur cepat Madrid-Seville tahun ini. Sebelumnya, pada Januari 2025, 46 orang tewas dalam kecelakaan di jalur yang sama di Adamuz. Total 115 nyawa melayang dalam dua peristiwa berjarak sembilan bulan itu.
Yang bikin miris, kecelakaan terbaru terjadi karena sistem komunikasi LZB yang memantau posisi kereta mengalami gangguan. Kereta milik Renfe (operator negara) mendapat izin melaju dengan kecepatan normal, padahal kereta Iryo (swasta) di depannya sedang berhenti dan tak bisa jalan lagi. Tabrakan pun tak terhindarkan.
Kabar terbarunya, Jaksa Uni Eropa (EPPO) mulai menyelidiki dugaan penyalahgunaan dana EU yang seharusnya dipakai untuk renovasi dan peningkatan sistem keselamatan, sinyal, dan komunikasi di jalur tersebut. Penyidik didampingi unit khusus Guardia Civil menggeledah kantor otoritas infrastruktur kereta Adif dan badan keselamatan AESF. Ini jadi penyelidikan fraud EU kedua terhadap perkeretaapian Spanyol tahun ini.
Dampak politiknya besar. Menteri Transportasi Óscar Puente, sekutu dekat PM Pedro Sánchez, mengundurkan diri. Partai oposisi PP dan Vox menuntut Sánchez ikut mundur, apalagi pemilu parlemen tinggal hitungan hari pada 29 November. Survei menunjukkan partai Sosialis sedang tertinggal dari Partai Rakyat (PP).
Di lapangan, kepercayaan publik anjlok. Banyak warga Spanyol kini ragu naik kereta. Laporan soal pembatalan massal dan peron stasiun yang kosong mulai bermunculan. Pemakaman 69 korban dijadwalkan Selasa di Katedral Toledo, di provinsi yang sama dengan lokasi kecelakaan. Menteri Transportasi baru, Carlos Cuerpo, berjanji mengambil langkah perbaikan.