Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah pidato kontroversialnya di sebuah rally kampanye Partai Republik di Tennessee. Dalam acara yang digelar menjelang pemilihan legislatif November mendatang itu, Trump mengklaim bahwa pendukungnya akan bertepuk tangan untuk apa pun yang ia katakan.
Ia juga membela diri terkait ucapannya yang memanggil kandidat Senat, Abdul El-Sayed, dengan nama 'Mohammed'. Tidak berhenti di situ, Trump melontarkan lelucon yang mengundang tawa sekaligus kehebohan: ia menyarankan agar Samudra Pasifik atau Atlantik diganti namanya menjadi 'Trump'.
Analisis Dampak: Pernyataan Trump ini bukan sekadar lelucon politik biasa. Di tengah tensi pemilu midterm yang memanas, gaya retorika provokatif seperti ini berisiko memperkeruh polarisasi di masyarakat AS. Sindiran terhadap nama Abdul El-Sayed yang bernuansa Islami bisa memicu sentimen anti-Muslim, sementara gurauan soal mengganti nama samudra dianggap oleh sebagian pihak sebagai bentuk narsisme yang tidak pantas bagi seorang presiden. Media lain mencatat bahwa rally ini memang bertujuan menggalang basis pendukung garis keras, namun efeknya bisa memperlebar jurang perpecahan antar kelompok pemilih.