Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian tengah bergerak cepat untuk meredam tekanan ekonomi yang semakin mencekik rakyat Iran. Dalam rapat kabinet terbaru, Pezeshkian menyoroti upaya musuh yang dianggap ingin memutus 'urat nadi' negara melalui sanksi dan blokade laut Amerika Serikat.
Kondisi ekonomi Iran memang memburuk drastis sejak konflik bersenjata meletus. Kerugian akibat serangan AS-Israel ditaksir mencapai USD 270 miliar, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu terkontraksi hingga 10 persen. Nilai tukar Rial Iran pun jatuh ke titik terendah, memicu lonjakan harga kebutuhan pokok yang memberatkan masyarakat.
Operasi 'Economic Outcast' yang diluncurkan AS semakin memperparah situasi dengan memblokade jalur pelayaran utama. Akibatnya, impor gandum dan bahan baku obat-obatan terhambat, memaksa warga beralih ke barang konsumsi yang lebih murah dan bermutu rendah. Pemerintah Iran kini menyiapkan paket kebijakan tujuh poin untuk menstabilkan harga dan pasokan, meski rincian strateginya masih tertutup rapat.