Jakarta, Media Online – Untuk pertama kalinya dalam gelombang serangan terbaru, militer Amerika Serikat (AS) berhasil menghantam target di dekat ibu kota Iran, Teheran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pada Kamis (waktu setempat) bahwa mereka melancarkan serangan udara ke beberapa lokasi militer dan aset strategis Iran, termasuk pusat komando, pertahanan udara, hingga fasilitas rudal dan drone.
Serangan ini merupakan bagian dari operasi untuk 'menurunkan kemampuan Iran mengancam pelaut tak bersalah' di Selat Hormuz. CENTCOM juga mengklaim telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak yang mencoba menerobos blokade laut menuju Pulau Kharg. Dalam pernyataannya, militer Iran mengaku berhasil menembak jatuh drone MQ-9 milik AS di kota Andimeshk.
Dampak serangan ini terasa luas. Media Iran melaporkan ledakan di sejumlah kota seperti Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Chabahar, hingga Semnan. Sebuah rumah sakit di Ahvaz bahkan terpaksa mengevakuasi 211 pasien setelah diduga terkena serangan. Sirene pertahanan udara berbunyi di Teheran dan kota-kota sekitarnya, menandakan situasi semakin genting.
Analisis: Eskalasi ini menandai babak baru konflik terbuka di Timur Tengah. Serangan yang menyasar dekat ibu kota menunjukkan bahwa AS tidak lagi membatasi operasinya di pesisir selatan Iran. Dampak langsung bagi masyarakat global adalah potensi terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pasokan minyak dunia. Jika konflik berlanjut, harga energi bisa melonjak dan rantai pasok global terganggu. Sementara itu, serangan balasan Iran terhadap pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain membuktikan bahwa perang ini berpotensi melibatkan negara-negara tetangga, memperluas zona konflik.