Milisi Rapid Support Forces (RSF) Sudan kembali berulah, melancarkan serangan drone brutal terhadap konvoi bantuan kemanusiaan PBB dan truk pengangkut bahan bakar di Kordofan Utara. Serangan ini menewaskan setidaknya satu orang dan melukai banyak lainnya, memperparah kondisi kemanusiaan di wilayah yang sudah dilanda kelaparan parah.
Jaringan Dokter Sudan mengecam keras insiden tersebut, menyebutnya sebagai 'pelanggaran terang-terangan hukum kemanusiaan internasional' dan kejahatan perang. Mereka juga mendesak dilakukannya investigasi independen serta tindakan internasional yang lebih tegas untuk melindungi pekerja dan infrastruktur kemanusiaan.
Menurut laporan, serangan terjadi berulang kali pada Jumat lalu di sepanjang jalan utama yang menghubungkan ibu kota negara bagian, el-Obeid, dengan Kosti di negara bagian White Nile. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran antara lain Er-Rahad, di mana tiga truk terkena tembakan, serta wilayah Allah Kareem dekat Es Samih, yang merusak empat kendaraan, termasuk truk pengangkut logistik PBB. Di Um Rawaba, tiga drone juga menghantam truk pengangkut dan tanker bahan bakar, menambah jumlah korban sipil.
Pemerintah negara bagian Kordofan Utara juga sudah mengutuk serangan terhadap konvoi terkait Program Pangan Dunia (WFP) ini, mendesak komunitas internasional dan badan-badan PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada pemimpin kelompok paramiliter RSF. Amerika Serikat, melalui Penasihat Senior Urusan Arab dan Afrika, Massad Boulos, mengecam serangan drone yang merusak makanan yang ditujukan untuk orang-orang yang kelaparan, seraya menegaskan tidak ada toleransi terhadap tindakan merusak kehidupan dan bantuan yang didanai AS.
Koordinator Kemanusiaan PBB, Denise Brown, membenarkan bahwa truk-truk tersebut sedang dalam perjalanan dari Kosti untuk mengirimkan bantuan pangan penyelamat jiwa kepada keluarga-keluarga pengungsi di dekat el-Obeid. Serangan ini menyusul insiden serupa awal pekan lalu di fasilitas terkait WFP di Yabus, negara bagian Blue Nile, yang melukai seorang karyawan.
Krisis kemanusiaan di Sudan kian memburuk akibat konflik brutal antara tentara Sudan (SAF) dan RSF yang kini memasuki tahun ketiganya. Konflik ini telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa hampir 11 juta orang mengungsi, dan mendorong berbagai wilayah ke ambang kelaparan. Serangan terhadap konvoi bantuan seperti ini bukan hanya pelanggaran hukum, tapi juga secara langsung mengancam nyawa jutaan orang yang bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup, sekaligus memperumit upaya distribusi bantuan di daerah-daerah yang paling rentan.