Gaza kembali dilanda duka setelah dua anak Palestina tewas akibat serangan drone Israel di Gaza Utara, Sabtu kemarin. Keduanya dilaporkan menjadi korban saat sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan, di tengah krisis bahan bakar yang parah dan suhu dingin menusuk di wilayah tersebut. Insiden memilukan ini menambah daftar panjang pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, yang menurut berbagai sumber, telah dilanggar Israel ratusan kali sejak kesepakatan itu berlaku 10 Oktober.
Situasi kemanusiaan di Gaza memang semakin memburuk. Di tengah kelangkaan energi, warga sipil terpaksa mencari kayu bakar untuk bertahan hidup, menghadapi suhu malam yang bisa anjlok hingga 10 derajat Celsius. Banyak yang berlindung di tenda-tenda darurat tipis yang nyaris tak memberikan perlindungan dari angin kencang dan hujan. Ironisnya, Israel terus memblokir atau membatasi masuknya bantuan vital seperti tenda, rumah mobil, atau material perbaikan, yang jelas melanggar kesepakatan gencatan senjata dan kewajibannya di bawah hukum internasional sebagai kekuatan pendudukan di Jalur Gaza.
Dampak dari kondisi ini sangat fatal. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa sejak 11 Oktober, setidaknya 481 warga tewas dan 1.206 lainnya luka-luka akibat serangan Israel. Angka ini belum termasuk penderitaan yang tak terlihat: sudah 10 anak meninggal dunia karena cuaca dingin ekstrem sejak awal musim dingin ini, salah satunya bayi tiga bulan bernama Ali Abu Zour, yang meregang nyawa di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa.
Di tengah eskalasi krisis kemanusiaan dan pelanggaran, geliat diplomasi juga terlihat. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan berada di Israel pada Sabtu untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu guna membahas situasi Gaza. Kunjungan ini terjadi menyusul pengumuman AS sebelumnya, pada hari Kamis, mengenai rencana ambisius untuk 'Gaza Baru' yang akan dibangun dari nol. Konsep pembangunan itu mencakup menara hunian, pusat data, dan resor tepi pantai, sebuah inisiatif yang disebut dalam berita ini sebagai bagian dari dorongan Presiden AS kala itu, Donald Trump, untuk memajukan gencatan senjata di Gaza yang terus dilanda gejolak. Namun, seiring waktu, rencana semacam itu menjadi semakin sulit diwujudkan mengingat kondisi di lapangan yang terus memanas dan tidak kondusif bagi pembangunan jangka panjang.