Laga lanjutan UEFA Nations League antara Irlandia dan Israel di Serbia berakhir dengan skor imbang 1-1, Senin (10/6/2024) dini hari WIB. Namun, hasil pertandingan seolah tenggelam oleh ketegangan politik dan insiden di lapangan yang membuat pertandingan ini jauh dari kata normal.
Pertandingan yang digelar tanpa penonton (closed doors) ini merupakan rangkaian dari dua pertemuan yang sebelumnya sudah diwarnai tekanan politik. Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) berada di bawah tekanan besar untuk memboikot laga ini, mengingat sikap kritis Irlandia terhadap agresi Israel di Gaza. Meski akhirnya tetap bertanding, tensi tinggi terasa sejak awal, ditandai dengan tidak adanya jabat tangan antar pemain dan kedua tim mengenakan ban lengan hitam dengan alasan yang berbeda.
Puncak kericuhan terjadi di babak pertama. Media Irlandia melaporkan bahwa salah satu staf pelatih Irlandia, Damien Doyle, menuduh seorang pemain Israel meludahinya saat jeda pertandingan. Pelatih Irlandia, Heimir Hallgrimsson, enggan berkomentar banyak namun memastikan insiden tersebut akan dibawa ke komite disiplin. "Saya ada di sana. Saya tidak akan berkomentar. Itu adalah sesuatu yang akan dilihat oleh komite disiplin," ujarnya singkat.
Di sisi lain, Pelatih Israel, Ran Ben-Shimon, mengaku tidak melihat kejadian tersebut karena sudah berada di ruang ganti. Ia berjanji akan memeriksa rekaman sebelum memberikan keterangan lebih lanjut. Meski demikian, Ben-Shimon membantah tudingan bahwa timnya bermain terlalu agresif.
Secara permainan, Irlandia sempat unggul lewat penalti Troy Parrott di menit ke-39. Namun, Israel menyamakan kedudukan tak lama setelah babak kedua dimulai melalui gol Dor Peretz. Hasil imbang ini membuat Irlandia berada di posisi ketiga Grup B3 dengan 5 poin, sementara Israel terpuruk di dasar klasemen dengan 2 poin.
Analisis Dampak: Insiden ini diprediksi akan memperkeruh hubungan sepak bola antara kedua negara dan berpotensi memicu sanksi disipliner dari UEFA. Bagi masyarakat luas, laga ini menjadi cerminan bagaimana konflik geopolitik tidak bisa dipisahkan dari dunia olahraga, memaksa atlet dan ofisial berada dalam tekanan mental yang luar biasa.