KIEV BERDARAH LAGI, DIPLOMASI AS DICAP GAGAL - Berita Dunia
← Kembali

KIEV BERDARAH LAGI, DIPLOMASI AS DICAP GAGAL

Foto Berita

Serangan udara Rusia kembali mengguncang Kyiv pada Kamis dini hari, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 22 lainnya, termasuk empat anak-anak. Infrastruktur metro di Jembatan Pivdenny yang membentang di atas Sungai Dnipro juga dilaporkan rusak akibat gempuran tersebut, menurut Wali Kota Vitali Klitschko.

Tak tinggal diam, Ukraina membalas dengan meluncurkan 630 drone ke wilayah Rusia. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyebut 163 drone di antaranya diarahkan ke ibu kota, meski sebagian besar berhasil dicegat. Gubernur wilayah Tula menambahkan 70 drone dihancurkan sistem pertahanan udara, sementara satu pria terluka di wilayah Lipetsk.

Eskalasi ini terjadi tepat setelah Utusan Khusus AS Steve Witkoff bertemu Presiden Vladimir Putin di Istana Constantine, St Petersburg. Dalam kunjungan itu, Rusia membebaskan guru AS Stephen Hubbard sebagai gestur niat baik—langkah yang membuat Witkoff memuji Putin sebagai sosok "humanitarian". Presiden Donald Trump pun optimistis perang ini "hampir berakhir", namun Kremlin bersikap hati-hati dengan menyatakan hanya "secara prinsip" siap melanjutkan perundingan, sembari menilai proposal damai Ukraina dan Eropa minim substansi.

Yang menarik, Trump justru kembali mendekati Putin dengan mempromosikan kesepakatan penjualan diesel Rusia—negara yang selama ini dihantam sanksi berat—untuk menekan harga bahan bakar yang melonjak akibat perang AS-Israel vs Iran. Trump bahkan menunda gelombang sanksi baru terhadap Rusia, dengan alasan demi pembebasan Hubbard. Langkah ini memicu kemarahan di Kyiv dan Eropa.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menegaskan bahwa politik appeasement tidak akan menghentikan agresi Rusia. "Appeasement, servility, and flattery will not stop this war. Only strength will," tulisnya di platform X.

Analisis dampak: Bagi masyarakat global, sinyal dari Washington ini menimbulkan pertanyaan besar—apakah AS mulai melunak terhadap Moskow demi kepentingan ekonomi? Bagi warga Ukraina, serangan yang terus berulang setiap malam membuat situasi kemanusiaan semakin genting, terutama dengan korban anak-anak. Sementara bagi masyarakat Indonesia, lonjakan harga energi global akibat ketegangan ini berpotensi menekan inflasi dan biaya logistik nasional. Perang yang sudah berlangsung sejak Februari 2022 ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan menjadi konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook