TATA DUNIA LAMA USAI, AS SERANG SEKUTU SENDIRI - Berita Dunia
← Kembali

TATA DUNIA LAMA USAI, AS SERANG SEKUTU SENDIRI

Foto Berita

Dunia sepertinya sedang memasuki era baru. Setidaknya, itulah yang diutarakan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss. Menurut Carney, tatanan global yang selama ini kita kenal, yang dibangun pasca-Perang Dunia II, bisa dibilang sudah runtuh atau sedang menuju keruntuhan total.

Penyebabnya? Tak lain adalah manuver Amerika Serikat (AS). Dalam beberapa minggu terakhir, AS, yang kekuatan militer dan finansialnya justru menjadi pilar utama tatanan global tersebut, melakukan serangkaian tindakan mengejutkan. Misalnya, upaya penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman untuk menginvasi Greenland yang merupakan wilayah Eropa, hingga janji akan mengenakan tarif pada sekutu Baratnya sendiri jika menentang.

Tak hanya itu, Presiden AS Donald Trump juga terlihat tak lagi mengindahkan peran PBB, organisasi yang seharusnya mewakili tatanan dunia modern. Malah, ia menggagas sesuatu yang ia sebut sebagai penggantinya: “Dewan Perdamaian” (Board of Peace).

Dalam pidatonya di Davos, Carney mengakui bahwa melihat tingkah laku AS, terutama desakan untuk mengambil alih Greenland, tatanan berbasis aturan sudah tamat. Ia menyebut, kita sedang menuju era persaingan kekuatan besar, di mana “fiksi” nyaman masa lalu tak lagi bisa dipertahankan.

“Kekuatan sistem ini tidak datang dari kebenarannya, tapi dari kemauan semua orang untuk bertindak seolah itu benar. Dan kerapuhannya berasal dari sumber yang sama,” kata Carney kepada para pemimpin dunia. “Ketika satu orang saja berhenti beraksi... ilusi itu mulai retak.”

Sehari setelah pidato Carney, Presiden Trump sendiri di Davos semakin menegaskan bahwa zaman sudah berubah. Ia menyinggung Venezuela, mengkritik negara-negara Eropa yang disebutnya lemah, dan terus-menerus menyatakan keinginannya untuk mengambil Greenland, tanpa peduli apa kata penduduk Greenland atau Denmark sebagai pemiliknya.

“Kami ingin sepotong es untuk perlindungan dunia. Dan mereka tidak akan memberikannya,” kata Trump. “Jadi mereka punya pilihan. Kalian bisa bilang ya, dan kami akan sangat berterima kasih. Atau kalian bisa bilang tidak, dan kami akan mengingatnya.”

Trump jelas menunjukkan bahwa cara lama tidak lagi menarik baginya. Konsep kedaulatan dalam tatanan pasca-Perang Dunia II dan penyelesaian sengketa lewat negosiasi, baginya, tidak lagi relevan. Sikap dan tindakan Trump beserta pemerintahannya ini telah memaksa para pembuat kebijakan di seluruh Eropa dan Barat untuk menghadapi kenyataan ketergantungan mereka pada AS, serta menimbang kesulitan untuk melawan kekuatan super paling signifikan di dunia.

Bahkan, Richard Shirreff, mantan wakil komandan sekutu NATO untuk Eropa, menggambarkan AS kini telah berubah dari “sekutu” menjadi “predator”. Upaya terbatas dari Eropa untuk menandingi ambisi AS di Greenland pun hanya disambut dengan kemarahan Amerika.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook