YERUSALEM MEMANAS! IBADAH SUCI TERHALANG DI KOTA KUDUS - Berita Dunia
← Kembali

YERUSALEM MEMANAS! IBADAH SUCI TERHALANG DI KOTA KUDUS

Foto Berita

Situasi di Yerusalem kembali memanas setelah pihak berwenang Israel melarang Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, memasuki Gereja Makam Kudus untuk merayakan Misa Minggu Palma. Insiden ini, yang disebut Gereja Katolik sebagai preseden serius, terjadi di tengah ketegangan regional dan bertepatan dengan penutupan Masjid Al-Aqsa saat Ramadan.

Menurut keterangan Gereja Katolik, Kardinal Pizzaballa dan Penjaga Gereja Makam Kudus, Francesco Ielpo, tidak diizinkan masuk pada Minggu Palma. Ini adalah kali pertama dalam berabad-abad pemimpin Gereja tidak bisa merayakan Misa Minggu Palma di sana, sebuah peristiwa yang sangat sakral bagi umat Kristen di seluruh dunia, terutama jelang perayaan Paskah.

Polisi Israel berdalih penutupan semua situs suci di Yerusalem, termasuk Gereja Makam Kudus, dilakukan atas dasar 'kekhawatiran keamanan' di tengah eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran. Mereka juga menyebut sulitnya akses kendaraan darurat di Kota Tua sebagai faktor risiko yang mengancam keselamatan jiwa jika terjadi insiden massal.

Namun, Gereja Katolik mengecam keras tindakan ini, menyebutnya sebagai langkah 'tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional' yang mencoreng kebebasan beribadah dan status quo. Pelarangan ini tak pelak memicu kecaman internasional.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut insiden ini 'menyinggung bukan hanya umat beriman, tapi juga komunitas mana pun yang menghormati kebebasan beragama'. Italia bahkan memanggil duta besar Israel terkait hal ini. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mendesak jaminan kebebasan beribadah 'bagi semua agama' di Yerusalem.

Sebelumnya, Masjid Al-Aqsa juga sempat ditutup untuk umat Muslim selama bulan Ramadan, yang juga bertepatan dengan periode ketegangan ini. Insiden-insiden semacam ini terus meningkatkan suhu politik dan keagamaan di Yerusalem, kota yang sangat sensitif bagi tiga agama monoteis besar dunia, dan bisa memicu ketidakpuasan meluas di kalangan masyarakat internasional.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook