Parlemen Iran resmi menyetujui Mehrdad Akhlaghi Ketabchi sebagai Menteri Pertahanan baru dalam voting yang digelar secara online, Minggu (2/3). Keputusan ini diambil saat konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel kian memanas sejak 28 Februari lalu.
Dari 252 suara yang masuk, sebanyak 237 anggota parlemen mendukung Akhlaghi, sementara 15 lainnya menolak. Pria berusia 68 tahun ini menggantikan posisi Aziz Nasirzadeh yang tewas bersama sejumlah petinggi negara, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, pada hari pertama perang meletus.
Akhlaghi bukan sosok sembarangan. Ia memiliki pengalaman lebih dari 42 tahun di Kementerian Pertahanan dan dikenal sebagai pakar rudal balistik, teknologi kedirgantaraan, serta produksi industri militer. Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan memulai agresi, tetapi akan mempertahankan kedaulatan wilayahnya mati-matian.
Tugas utama Akhlaghi sangat berat: membangun ulang infrastruktur industri militer Iran yang porak-poranda akibat serangan AS dan Israel. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, menyebut penunjukan ini sebagai sinyal bahwa Iran perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas senjata strategis, terutama rudal dan drone.
Media internasional mencatat bahwa Akhlaghi dan entitas yang pernah dipimpinnya masuk dalam daftar sanksi AS dan PBB. Ia diketahui terlibat dalam pengembangan rudal balistik Sejjil dan Zolfaghar, serta senjata presisi seperti rudal Almas dan bom terpandu Yasin. Langkah ini menunjukkan Iran serius mempersiapkan diri menghadapi eskalasi perang yang diprediksi semakin brutal.