Situasi di Timur Tengah semakin panas. Di satu sisi, Amerika Serikat terus mengancam dengan pengerahan kekuatan militernya. Di sisi lain, Iran justru mengencangkan ikat pinggang, fokus pada kesiapan bertahan, dan memilih tidak bernegosiasi dengan Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan terbang ke Turki untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi pada Jumat (sesuai berita). Meski ada upaya diplomatik regional untuk meredakan ketegangan dan mencari titik temu, pernyataan dari Teheran justru mengindikasikan prioritas yang berbeda. Menurut Kazem Gharibabadi, anggota senior tim negosiasi Iran, "Prioritas Teheran saat ini bukan bernegosiasi dengan AS, melainkan memiliki kesiapan 200 persen untuk mempertahankan negara kami." Ia juga menyebut, meskipun ada komunikasi tidak langsung melalui perantara, Iran akan tetap siaga penuh. Apalagi, Iran mengklaim pernah diserang Israel dan AS pada Juni lalu, tepat saat negosiasi akan dimulai.
Ancaman AS tak main-main. Sebuah "armada" — istilah yang digunakan Presiden Donald Trump — yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, disebut-sebut telah menempatkan diri di dekat perairan Iran. Namun, Teheran tak gentar.
Iran membalas ancaman itu dengan unjuk gigi kekuatan militer. Angkatan Darat Iran, pada Kamis, mengumumkan penambahan 1.000 drone "strategis" baru ke jajaran pasukannya. Drone-drone ini bukan sembarangan, lho. Mereka termasuk drone bunuh diri sekali pakai, drone tempur, pengintai, dan bahkan memiliki kemampuan perang siber yang bisa menyerang target tetap maupun bergerak di darat, udara, dan laut. Komandan Angkatan Darat Amir Hamati menegaskan, "Sesuai dengan ancaman yang kami hadapi, agenda angkatan darat meliputi mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat dan respons tegas terhadap agresi apa pun."
Tak hanya Angkatan Darat, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga tak mau ketinggalan. Mereka sebelumnya sudah sering sesumbar tentang kemampuan untuk bertahan dari serangan dan meluncurkan rudal balistik serta jelajah ke Israel atau aset-AS di seluruh wilayah jika diperlukan.
Masyarakat Iran pun terus memantau retorika Donald Trump yang seringkali kontradiktif: kadang mengancam, kadang menyatakan bersedia berdialog. Ironisnya, Washington justru menyebut Iran sedang dalam kondisi terlemahnya sejak berdiri hampir setengah abad lalu. Padahal, Iran justru menunjukkan peningkatan kekuatan militernya.
Ketegangan yang terus memuncak ini membawa dampak serius bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan dunia. Pengerahan armada militer AS dan unjuk kekuatan Iran berupa drone canggih menunjukkan bahwa kedua belah pihak enggan mundur. Upaya diplomatik regional menjadi krusial, namun tanpa kesediaan dari AS dan Iran untuk duduk semeja, risiko eskalasi konflik tetap tinggi. Kondisi ini bisa berujung pada krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih parah di wilayah tersebut, serta mengganggu jalur perdagangan vital.