Menjadi duta besar untuk Rusia kini bukan lagi sekadar tugas diplomatik biasa. Lynne Tracy, mantan Dubes AS untuk Moskow periode 2023-2025, bahkan menyebutnya sebagai penugasan terberat sepanjang kariernya. Ia bukan satu-satunya. BBC mewawancarai lima diplomat Barat yang bertugas di Rusia sejak invasi besar-besaran ke Ukraina dimulai, dan semuanya menggambarkan kondisi yang tak jauh berbeda: tekanan psikologis tinggi, pengawasan ketat, dan isolasi yang makin menusuk.
Pemerintahan Presiden Vladimir Putin resmi mencap negara-negara Barat sebagai "tidak bersahabat". Imbasnya, para diplomat asing hidup dalam bayang-bayang pengawasan konstan. Penyadapan, kamera di setiap sudut ruangan, hingga upaya perekrutan agen oleh dinas keamanan FSB menjadi makanan sehari-hari. Salah satu mantan dubes bahkan terpaksa memecat dua staf lokalnya karena keduanya ditekan FSB untuk melaporkan aktivitas kedutaan.
Yang lebih miris, warga Rusia yang biasanya terbuka membangun relasi dengan staf diplomatikākalangan akademisi dan budayawan misalnyaākini ikut diintimidasi agar menjauh. Tamu undangan pernah dibuntuti agen FSB hingga depan pintu kedutaan. Situasi ini memicu kekhawatiran soal masa depan diplomasi: ketika jalur komunikasi resmi dibatasi dan rasa saling percaya terkikis, potensi kesalahpahaman yang bisa memicu eskalasi konflik justru makin besar. Masyarakat sipil di kedua pihak pun menanggung risiko paling besarāinformasi yang simpang siur, ketegangan yang tak berkesudahan, dan ruang dialog yang makin sempit.