Dearborn, Michigan – Gelora politik di Michigan memanas jelang pemilihan pendahuluan Senat AS, Selasa (6/8). Kandidat progresif Abdul El-Sayed, yang vokal mengkritik kebijakan Israel, harus berhadapan dengan mesin uang raksasa kelompok lobi pro-Israel, AIPAC, yang menggelontorkan lebih dari USD 60 juta (sekitar Rp 960 miliar) untuk menjegal langkahnya.
Dalam kampanye di Dearborn, Jumat (2/8), massa meneriakkan 'Down with AIPAC' sebagai bentuk penolakan terhadap intervensi asing dalam demokrasi. Anggota legislatif Michigan, Alabas Farhat, menegaskan bahwa uang tersebut seharusnya bisa digunakan untuk sekolah modern, air bersih, dan layanan kesehatan, bukan untuk mendanai kekerasan di Gaza dan Lebanon Selatan.
Data Komisi Pemilihan Federal (FEC) menunjukkan AIPAC dan komite aksi politik (PAC) terkait telah mengeluarkan USD 54 juta untuk memenangkan lawan El-Sayed, petahana Haley Stevens. Jumlah itu membengkak menjadi USD 60 juta setelah kelompok uang gelap 'Center for Democratic Priorities' menambah USD 6,5 juta untuk iklan dukungan, tanpa melaporkan sumber dananya ke FEC.
Catatan penting: ini adalah rekor belanja politik terbesar AIPAC sepanjang sejarah. Dari total USD 100 juta yang dikumpulkan United Democracy Project (UDP), sayap politik AIPAC, sekitar USD 30 juta langsung berasal dari AIPAC yang berstatus nonprofit sosial, sehingga sulit dilacak asal-usul donornya.
Analisis: Pertarungan ini bukan sekadar siapa yang duduk di Senat, melainkan arah kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Jika El-Sayed menang, ini menjadi sinyal kuat bahwa dukungan tanpa syarat terhadap Israel mulai ditolak di internal Partai Demokrat. Namun, kekuatan finansial AIPAC yang luar biasa bisa membuat kandidat kritis seperti El-Sayed tersingkir sebelum sempat bersuara di Senat. Publik perlu mencermati: demokrasi yang sehat tidak boleh dibajak oleh segelintir miliarder yang berkepentingan.