Washington, DC - Perang besar di Timur Tengah, termasuk serangan AS-Israel ke Iran, mungkin mengubah peta aliansi dan keseimbangan kekuatan. Namun, analis politik di Washington menegaskan bahwa ada tiga hal yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh bom: geografi, nasib Palestina, dan identitas politik kawasan.
Dalam analisis yang dikutip dari media internasional, dijelaskan bahwa setiap perang besar di Timur Tengah selalu membawa ilusi yang sama: keyakinan bahwa bom bisa menulis ulang sejarah. Padahal, kawasan ini telah terbukti mampu bertahan dari invasi Mongol, Perang Salib, kolonialisme Eropa, hingga Perang Dingin.
Fakta geografis menjadi kunci utama. Selat Hormuz yang dikuasai Iran tetap menjadi jalur minyak dunia. Terusan Suez di Mesir masih menjadi arteri perdagangan global. Yaman tetap menguasai pintu selatan Bab al-Mandeb. Perang mungkin mengganti penguasa, tapi tidak akan bisa memindahkan posisi strategis wilayah-wilayah ini.
Lebih penting lagi, isu Palestina dinilai sebagai 'keniscayaan sejarah'. Banyak pihak keliru mengira bahwa menghancurkan poros perlawanan akan otomatis menghapus agenda Palestina. Faktanya, isu ini sudah ada jauh sebelum Iran berdiri sebagai negara Republik Islam. Palestina adalah identitas yang mengakar, bukan sekadar alat politik.
Kesimpulannya, perang hanya mampu mengubah peta sementara, tapi tidak bisa mengubah realitas fundamental yang sudah menjadi takdir kawasan.