Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan melancarkan serangan ke Pulau Qeshm, Iran, untuk pertama kalinya sejak Juni lalu. Serangan yang disebut sebagai 'tindakan defensif' ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan alot untuk mencegah pecahnya perang terbuka.
Menurut laporan media internasional, ledakan beruntun terdengar di Pulau Qeshm pada Senin malam waktu setempat. Otoritas AS mengklaim serangan ini menargetkan sistem pertahanan udara Iran yang membahayakan aset militer mereka di Selat Hormuz. Insiden ini dipicu setelah Pengawal Revolusi Iran (IRGC) dikabarkan menembak jatuh drone pengintai MQ-9 milik AS di perairan tersebut.
Pulau Qeshm sendiri memiliki nilai strategis tinggi karena menjadi basis kekuatan angkatan laut 'asimetris' Iran. Sebelumnya, pada Maret lalu, AS pernah menghancurkan instalasi desalinasi di pulau ini, yang memutus pasokan air bersih ke 30 desa sekitarnya. Meski situasi memanas, mediasi yang dipimpin Qatar masih terus berlangsung. Perundingan indirect antara AS dan Iran masih membahas draf kesepakatan, meski belum ada titik terang. Masyarakat global kini menanti apakah insiden terbatas ini akan memicu perang besar yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia, atau justru menjadi jalan menuju perdamaian.