Konya, Turkiye – Sebuah studi genetika terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang Çatalhöyük, pemukiman Neolitikum yang diyakini sebagai 'kota pertama di dunia'. Berbeda dengan peradaban Eropa lainnya yang cenderung patriarki, masyarakat Çatalhöyük justru menganut sistem matrilokal, di mana perempuan tetap tinggal di rumah sementara laki-laki pindah saat dewasa.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science ini melibatkan 46 penulis dan menganalisis DNA kuno. Hasilnya menunjukkan bahwa 70 hingga 100 persen keturunan perempuan tetap terhubung dengan bangunan tempat mereka dilahirkan. Temuan ini membalikkan asumsi umum tentang masyarakat agraris awal yang biasanya didominasi laki-laki.
Terletak sekitar satu jam tenggara Konya, Turkiye, Çatalhöyük dihuni selama 1.000 tahun, dari 7000 hingga 6000 SM. Situs Warisan Dunia UNESCO ini unik karena tidak memiliki jalanan atau pintu depan. Penduduknya masuk ke rumah melalui lubang di atap yang juga berfungsi sebagai jalur lalu lintas dan ruang berkumpul.
Yang lebih menarik, para arkeolog tidak menemukan bukti adanya kekerasan terorganisir atau hierarki sosial yang kaku. Tidak ada bangunan yang secara jelas digunakan untuk ibadah, pemerintahan, atau milik individu kaya dan berkuasa. Meski begitu, beberapa rumah memiliki hiasan lebih mewah, seperti lukisan dinding rumit dan tanduk banteng yang dipasang di ceruk dinding.
Analisis Dampak: Temuan ini mengubah narasi sejarah tentang peran gender di masa lalu. Jika masyarakat maju seperti Çatalhöyük bisa egaliter dan matrilineal, maka konsep bahwa peradaban besar selalu bersifat patriarki mulai dipertanyakan. Ini juga membuka diskusi baru tentang bagaimana struktur sosial modern terbentuk. Para ahli kini menduga bahwa sistem matrilokal mungkin menjadi kunci stabilitas sosial pada masa transisi dari berburu-meramu ke pertanian.